Peristiwa

Garang Saat Tawuran, Nangis Saat Orang Tua Datang


KRAKSAAN – Setelah terjadi tawuran dua geng di Kraksaan, Rabu (7/8) sore, menyisakan kejadian unik saat dua pelaku dibina di markas Satpol PP. Dua pelaku yang garang saat tawuran, eh menangis begitu kedua orang tuanya datang.

Bahkan, salah satu remaja itu menangis berulang kali dan memanggil “Umik” (ibu). Tangisan itu terjadi bahkan sebelum orang tuanya datang.

Saat Koran Pantura datang ke markas Satpol PP, kedua remaja itu yakni JN (19) dan MAA (17) tengah diguyur air melalui selang kamar mandi. Tujuannya untuk menghilangkan efek minuman keras yang mereka tenggak siang harinya.

JN terlihat lebih tegar. Saat diguyur, dia fokus membaca istighfar seperti bimbingan petugas Satpol PP di depannya. Sedangkan MAA, tubuhnya sudah agak menggigil. Tubuhnya gemetar, bibirnya mengembik, matanya memerah. Dari mulutnya berulang ulang keluar jeritan kata “Umik”.

Usai dimandikan, kedua pemuda ini lalu berpakaian dan dimintai keterangan oleh petugas. Proses interogasi dimulai. Koordinator TRC Satpol PP Kabupaten Probolinggo Nurul Arifin melancarkan pertanyaan-pertanyaan atas keterlibatan mereka dalam tawuran itu. “Saya nggak ikut-ikutan, Pak,” jawab JN diiringi perintah push up 8 kali dari Nurul.

“Wong saya itu melihat langsung kamu mukulin siswa. Ayo jawab yang jujur,” tambah Nurul.

Sedangkan MAA, hampir setiap proses interogasi selalu menahan tangisan. Matanya selalu merah. Setiap disebut kata-kata “orang tua”, “umik”, “abah”, “agama’, “Rasul”, MAA langsung menangis.

“Ayo hafalan Pancasila. Kalau hafal, hukuman selesai,” tegas Nurul yang kala itu membina kedua pemuda ini dengan menahan kedua tangannya sejajar lurus dengan dadanya.

Namun, semua pemuda itu tidak hafal. JN berusaha menghafal, namun urutannya salah. Sila pertama menurut JN adalah Persatuan Indonesia. Hukuman push up pun diterima lagi. Sedangkan MAA, sebelum disuruh sudah berujar mantap. “Saya tidak hafal, pak,” teriak MAA dengan mengangkat tangan kanannya tinggi.

Suasana sedikit memanas saat kedua orang tua JN, saudara dan kepala desa Gebangan Agus Sudianto hadir. Beberapa pihak terkait sempat geram ingin memukul keduanya, namun dilerai petugas.

Nurul mendudukkan mereka dan menceritakan kronologinya. “Ini alat yang anak ibu bawa untuk tawuran,” ucap Nurul di akhir keterangannya yang sekaligus menunjukkan rantai modifikasi untuk dibuat tawuran.

JN lalu memeluk kaki ibunya. Dengan sedikit histeris, ibunya menceramahinya bahwa tidak pernah menginginkan anaknya menjadi berandalan. Sementara ayah JN hanya melirik dengan muka merah padam. “Ngapora buk, ngaporah (mohon maaf bu, mohon maaf,red),” pinta JN sembari memegangi erat kedua kaki ibunya.

Usai dilepas oleh petugas, JN melanjutkan merangkul kaki ayahnya. Respon yang didapat berbeda. “Ella percuma be’en de’iyeh. Been beni tang anak (Sudahlah. Percuma kami kayak gini. Kamu bukan anakku,red),” geram sang ayah dengan mengibaskan kakinya yang mengakibatkan JN terpental.

Suasana mulai reda ketika petugas melerai dan memberi pengertian kepada yang bersangkutan. Usai suasana dingin, JN bersama pihak-pihak terkait itu pulang dan berpamitan kepada para petugas.

Sementara, MAA hingga pukul 17.00 masih berada di markas Satpol PP. Dia masih menunggu kedatangan kedua orang tuanya yang juga diundang. Entah dalam keadaan sadar atau tidak, MAA meminta petugas agar tidak menghalangi permintaannya saat kedua orang tuanya datang. “Ini saya sadar. Nanti kalau orang tua saya datang, saya mau cium kaki umik,” pinta MAA dengan tetap menahan tangisnya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel