Peristiwa

Bentrok Antar Geng, Satpol Amankan 2 Provokator


KRAKSAAN – Terjadi bentrokan antar 2 geng remaja di sentra Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Kraksaan, Rabu (7/8) sore. Diduga, tawuran itu melibatkan 2 geng siswa dari 2 SMK negeri di Kraksaan. Kericuhan berhasil direspon cepat oleh Satpol PP setempat dengan mengamankan 2 provokator.

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Satpol PP Kabupaten Probolinggo Nurul Arifin mengatakan, pihaknya menerima informasi dari masyarakat tentang adanya beberapa pemuda mabuk di sentra PKL Semarak. Laporan juga menyebutkan ada potensi tawuran, karena sempat ada cekcok mulut.

“Kemudian kami selidiki dan mendekat ke sana. Ternyata benar. Sesaat kemudian terjadi tawuran. Ada yang berseragam dan ada yang tidak. Saat kami datang, mereka kabur dan kami menangkap 2 pemuda yang kami duga sebagai provokator,” beber Nurul kepada Koran Pantura.

Kejadian itu terjadi sekitar pukul 15.00. Dua pemuda yang diamankan adalah JN (19), warga Desa Gebangan, Kecamatan Krejengan dan MAA (17), warga Desa Wangkal, Kecamatan Gading. “Saat ditangkap, keduanya masih dalam pengaruh minuman keras. Bahkan salah satu pelaku (MAA) sempat melawan kepada petugas,” ucapnya.

Nurul menduga kuat bentrokan itu sudah direncanakan sebelumnya. Pasalnya, salah satu pelaku yang diamankan yakni JN, kedapatan membawa alat sejenis roti kalung yang dimodifikasi dari rantai motor. “Kami menduga ini rentetan dari kejadian Jumat (2/8) lalu yang melibatkan para siswa di 2 SMKN,” tuturnya.

Pihaknya telah memberikan pembinaan kepada kedua pemuda ini dan mengundang kedua orang tuanya serta kepala desa untuk hadir ke mako Satpol PP. “Setelah mengisi surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, kedua pemuda ini kami pulangkan,” tegas Nurul.

JN, salah seorang pemuda yang ditangkap, mengakui jika sebelum berangkat, dia bersama MAA menggelar pesta miras di Kecamatan Besuk. Saat itu, ia bersama 3 orang temannya menenggak arak yang dibelinya dari Desa Kalibuntu, Kota Kraksaan. “Saya kerja molong bekoh. Dapat upah Rp 30 ribu. Uang Rp 10 ribunya saya buat patungan beli arak,” akunya.

JN mengaku membawa senjata rantai itu hanya untuk berjaga-jaga. Namun, di sisi lain, dia menerangkan bahwa adiknya yang bersekolah di salah satu SMK negeri di Kraksaan sedang bermasalah dengan siswa dari sekolah lain. “Waktu itu saya mau jemput tunangan, mampir dulu ke sentra PKL. Terus saya lihat adik saya dipukuli, ya saya ikut nolongin,” beber JN.

Sedangkan MAA diketahui merupakan anak putus sekolah. Dia berhenti sekolah saat kelas XII. Pemuda ini juga diketahui merupakan anak dari salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) di Desa Widoro, Kecamatan Krejengan. “Saya cuman ikut-ikutan tadi waktu minum (minum arak, red). Terus saya ikut saja ke PKL. Tapi waktu ada tawuran itu saya nggak ikutan,” tuturnya.

Kendati demikian, MAA masih ingat betul jumlah anak yang tawuran itu. Tetapi, dia tidak mengetahui apakah pelajar itu berasal dari lembaga pendidikan yang sama atau lain lembaga. “Jumlahnya 10 orang, semuanya pakai seragam. Tapi setelah ada petugas, mereka kabur dan malah kami yang ditangkap,” ungkapnya.

MAA juga mengaku selain minum arak, juga mengonsumsi pil koplo, sehingga muncul keberanian untuk berkelahi. Tak tanggung, ia menantang anggota TRC Satpol PP dan melawan saat ditangkap. “Saya minum 8 pil. Tapi kalau waktu ngelawan petugas, waktu itu saya nggak sadar,” ucapnya. (awi/iwy)


Bagikan Artikel