Peristiwa

Ditinggal Sejenak, Balita Tewas Tercebur di Ember


BESUK – Nasib tragis menimpa Faranisa Diah Rahmadani. Bayi berusia 13 bulan asal Desa Jambangan, Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo itu kemarin (21/7) tewas setelah tercebur dalam ember. Balita perempuan itu meninggal dunia dalam posisi kepala di bawah.

Berdasar informasi yang dihimpun Koran  Pantura, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.30. Saat itu di kamar mandi, Faranisa hendak dimandikan oleh sang ibu, Ila Novita. Sebelum acara mandi dimulai, Ila Novita meninggalkan putrinya sendirian untuk menyelesaikan cucian bajunya.

Saat ditinggal ibunya, Faranisa rupanya berjalan mendekati ember berisi air yang  menjadi tempat mandinya. Ember plastik itu memiliki tinggi 50 cm, diameter 100 cm. Posisi ember tersebut berjarak hanya sekitar 5 meter dari posisi ibunya yang sedang menyelesaikan cucian.

Sejenak saja Ila Novita meninggalkan putrinya dekat ember tersebut. Tetapi saat kembali, Ila Novita mendapati anaknya sudah dalam posisi tercebur di dalam ember. Separo badan Faranisa masuk ke dalam ember dengan posisi kepala di bawah. Spotan sang ibu mengangkat tubuh putrinya.

Menurut Kapolsek Besuk Iptu Agus, sang ibu langsung menekan dada anaknya untuk mengeluarkan air yang masuk ke tubuhnya. “Ibu korban langsung mengangkat anaknya dan mencoba memompa dada anaknya itu,” jelasnya kemarin.

Namun, Faranisa tak kunjung bergerak. Ila Novita kemudian membawa anaknya ke Puskesmas Bago untuk mendapatkan pertolongan. Tetapi, sampai di puskesmas, tim medis menyatakan Faranisa sudah meninggal dunia. “Dari hasil visum dan identifikasi, tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban,” terang Iptu Agus.

Karena sudah dilaporkan ke polisi, lanjut Agus, maka tahapan autopsi perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. Akan tetapi keluarga korban tidak bersedia dan menerima kejadian itu. Mereka membuat surat pernyataan,  menyatakan tidak akan menuntut siapapun. “Pihak keluarga korban tidak berkenan untuk dilakukan otopsi dan telah menerima kejadian itu sebagai musibah bersama,” tuturnya.

Iptu Agus berharap, kejadian ini dijadikan pelajaran oleh seluruh orang tua. Supaya tidak mudah melepas dan membiarkan balitanya berkeliaran tanpa pengawasan. “Orang tua harus lebih ketat menjaga anak-anaknya. Jangan sampai lengah,” imbaunya. (yek/iwy)

Anggota TNI dan Polri Kecamatan Besuk mengecek ember di mana Faranisa Diah Rahmadani meregang nyawa. (Istimewa/Koran Pantura)


Bagikan Artikel