Peristiwa

Rusak, Ribuan Batang Tembakau Dicabut

KREJENGAN – Beberapa petani tembakau di Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan terpaksa harus mencabut kembali tanaman tembakaunya yang sudah berusia 1 bulan lebih. Hal ini karena tembakau yang mereka tanam rusak. Daun tembakau menjadi keriting, seperti terserang penyakit.

Sipyani, petani tembakau di desa Jatiurip mengaku sudah mencabut 4 ribu lebih tanaman tembakaunya. “Ketika berusia 23 hari, saya sudah cabut 4.500 pohon tembakau yang sudah saya tanam karena keriting itu, dan besok (hari ini,red) paling saya akan mencabut lagi sekitar 4 ribu pohon,” keluhnya, Senin (24/6).

Pada tahun ini, ia mengaku menanam sebanyak 11 ribu bibit tembakau di sawah seluas 500 meter persegi. Dengan kerusakan ini, ia mengaku sudah mengeluarkan biaya lebih dari Rp 4 juta guna menanam kembali tembakaunya itu.

“Saya juga tidak tahu penyakitnya tembakau ini sebabnya apa. Kalau ulat masih ada obatnya, tapi kalau keriting seperti ini, jangankan obatnya, sebabnya saja saya tidak tahu,” katanya.

Kebingungan itu ia rasakan, karena menurutnya, rusaknya tembakau bisa terjadi karena dua sebab. Yakni dari faktor tanah dan faktor bibit tembakaunya. Dari faktor tanah bisa terjadi sebab tanah tersebut sebelumnya ditanami cabai, di mana tanah bekas tanaman cabai akan panas dan tidak cocok jika ditanami tembakau. Sedangkan asumsi kedua karena bibit tembakaunya yang memang kurang bagus.

“Padahal sawah saya ini sebelum-sebelumnya tidak ditanami cabai. Sedang kalau dari bibitnya saya sudah mengkuti anjuran dari APTI untuk tidak menggunakan bibit tembakau yang ada di pinggir jalan, karena banyak terserang polusi udara dari kendaraan yang melintas. Makanya saya bingung ini kenapa,” katanya.

Sunari dan Hasbullah juga mengalami nasib sama dengan Sipyani. Mereka berharap agar pemerintah bisa segera turun tangan untuk memberikan solusi dari sumber perekonomiannya tersebut. “Kami harap pemerintah bisa segera turun dan ngecek langsung, agar kami tahu daun keriting ini sebabnya apa, dan obatnya apa,” kata Sundari.

Mudzakkir, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo mengatakan, pihaknya secepatnya akan merespon keluhan dari petani tembakau di Desa Jatiurip tersebut. “Saya belum bisa memastikan karena faktor apa, karena belum tahu langsung, dan secepatnya saya akan ngecek,” katanya. (ay/awi)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan