Peristiwa

Daki Argopuro, Dapat Separo Perjalanan, Tewas

KRAKSAAN – Nasib nahas menimpa Muhammad Mawi (42). Warga Desa Andungsari, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo ini meregang nyawa dalam perjalanan menuju Taman Hidup di Desa Bremi, Kecamatan Krucil, Rabu (12/6). Kematian pria yang bekerja sebagai buruh tani ini diduga disebabkan cuaca yang cukup dingin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Pantura, Muhammad Mawi berangkat bersama dengan beberapa rekannya sekitar pukul 05.00. Rencananya, pria yang akrab disapa Luki ini hendak memancing di sekitar wilayah Taman Hidup Lereng Argopuro.

Sayangnya, ketika sampai di area Perhutani Blok Kopi 2 Desa Bremi, Luki tiba-tiba merasa sesak. Dari posisi ini, jarak tempuh menuju tempat tujuan memerlukan waktu 1 jam 30 menit perjalanan. Perjalanan terpaksa dihentikan. Di tempat istirahat itu, ia bersama rekannya sempat membuat api unggun.

Beberapa saat kemudian, Luki merasa tubuhnya mengigil kedinginan dan kejang-kejang. Beberapa pendaki lain yang melewati lokasi Luki, berusaha memberikan bantuan. Sayangnya pertolongan rekan dan sejumlah pendaki lain tak bisa menyelamatkan nyawanya. Akhirnya, Luki harus meregang nyawa di lokasi.

Selanjutnya, salah satu rekan Luki mencoba turun ke bawah untuk meminta tolong warga setempat. Pada akhirnya, warga segera menyusul dan mengevakuasi korban dari lereng Gunung Argopuro. Yakni dari ketinggian 1700-1800 mdpl (meter di atas permukaan laut).

“Korban rencananya mau mancing di Taman Hidup bersama teman-temannya. Sayangnya, belum sampai di lokasi, sekitar 1,5 jam perjalanan dari lokasi tujuan, korban meregang nyawa. Warga dengan dibantu Tim SAR dan anggota kepolisian mengevakuasi korban di lereng argopuro itu,” ungkap Beni, salah seorang warga Krucil.

Kapolsek Krucil AKP Dwi Sucahyo mengatakan, jajarannya langsung menuju lokasi bersama warga untuk mengevakuasi korban. Namun karena medan yang sulit, evakuasi dilakukan dengan peralatan seadanya. “Korban langsung dibawa ke Puskesmas Krucil,” ungkapnya.

Ia menyatakan peristiwa kematian korban terjadi karena faktor alam. Korban disebut mengalami hipotermia, di mana kondisi tubuh tak kuat menahan dinginnya suhu di sekitar lokasi kejadian. Akibatnya, korban mengalami kedinginan dan kejang-kejang. “Pihak keluarga korban tidak mau untuk dilakukan otopsi. Sehingga korban langsung dibawa pulang ke rumah untuk dikebumikan,” kata AKP Dwi. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan