Peristiwa

Ngadirejo Paling Parah

SUKAPURA – Gunung Bromo terus mengeluarkan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah sekitarnya. Wilayah yang disebut paling terdampak adalah Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Paparan abu di desa tersebut bahkan menutupi tanaman milik petani.

Dari pantauan Koran Pantura, abu Bromo terpapar di sepanjang jalan di Desa Ngadirejo. Selain itu, pekatnya paparan abu di udara membuat paparan sinar matahari tak terlihat. Hal tersebut membuat pengguna jalan harus menyalakan lampu utama kendaraannya.

Tanaman kubis milik petani Desa Ngadirejo cukup parah terpapar abu vulkanik Bromo. Kondisi ini cukup meresahkan petani setempat. (Choirul Umam Masduqi/Koran Pantura)

Abu juga tersebar cukup banyak di areal pertanian setempat. Banyak tanaman kubis milik petani yang daunnya tertutup abu Bromo. Petani tak bisa berbuat banyak menghadapi situasi tersebut. Mereka membiarkan begitu saja tanamannya tertutup abu tebal. “Sudah dua pekan kondisinya seperti ini, Mas,” ujar Ririn, salah satu petani desa setempat, Senin (25/3).

Untuk menghindari situasi semakin, warga Ngadirejo membersihkan abu yang menempel di atap rumah dan bangunan lainnya. Hal itu dilakukan agar atap bangunan tidak ambruk. “Kalau dibiarkan, khawatir ambruk. Makanya kami bersihkan dengan alat seadanya. Termasuk menggunakan alat untuk nyemprot tanaman,” kata Ririn.

Wakil Bupati Probolinggo HA. Timbul Prihanjoko juga datang ke Ngadirejo, Senin. Ia bertemu dengan para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan pemerintah desa setempat. Dalam pertemuan itu, Timbul mendapatkan masukan dari masyarakat. Saah satunya soal kekhawatiran warga terkait persediaan air.

“Tapi sampai sekarang masih aman. Akan tetapi sebagai persiapan, kami antisipasi. Terutama jika situasi ini berkepanjangan,” terangnya.

Sebagai acuan, Timbul menceritakan erupsi Bromo pada 2010 dan 2016. Menurutnya, Ngadirejo pada 2 kali erupsi tersebut mengalami krisis air bersih. Yakni setelah sejumlah pipa air rusak karena tertimpa pohon. Padahal menurutnya, air sangat diperlukan selain untuk aktivitas warga sehari-hari.

“Selain itu juga untuk membersihkan pakan ternak dari abu vulkanik. Pembersihan dilakukan untuk menghindari ternak mati karena mengkonsumsi rumput yang bercampur dengan abu vulkanik. Nah, kami ambil langkah-langkah sebagai antisipasi. Jadi, jangan sampai kekurangan air seperti erupsi yang lalu,” kata politisi PDIP ini.

Oleh karena itu, Timbul telah meminta kepada pihak terkait untuk menyiapkan segala sesuatu sebagai bentuk antisipasi. Ia menyatakan Pemkab tidak menginginkan persiapan yang terlambat ketika nantinya situasi semakin memburuk. (rul/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan