Peristiwa

Terpapar Abu Bromo, Siang Hari, tetapi Terasa Maghrib

PROBOLINGGO – Hujan abu vulkanik Gunung Bromo yang mengguyur kawasan Kecamatan Sumber sudah berlangsung sepekan. Hujan abu vulkanik ini memang tidak terlalu mengganggu aktivitas warga. Namun, tetap saja kondisi ini tidak mengenakkan. Petani khawatir abu vulkanik merusak tanamannya. Selain itu, pekatnya hujan abu membuat kawasan Sumber seperti tidak punya siang hari.

Berdasar data terakhir dari Kecamatan Sumber, sudah ada delapan desa di kecamatan tersebut yang terpapar hujan abu vulkanik Gunung Bromo. Adapun empat desa terpapar yang terparah kondisinya ialah Desa Wonokerso, Ledokombo, Sumberanom dan Pandansari. Sedangkan Desa Gemito, Tukul, Sumber dan Cepoko, juga terpapar, tetapi tidak parah.

Akhir pekan kemarin lalu, Koran Pantura menyempatkan diri untuk melihat kondisi di empat desa terpapar terparah. Begitu memasuki Desa Sumber, hampir tidak ada perubahan yang siginifikan. Masyarakat masih menjalankan aktivitas seperti biasa. Pagi, para ibu mengantarkan anak sekolah. Ada pula yang berangkat ke ladang.

Memasuki Desa Pandansari, mulai terlihat banyak warga yang menggunakan masker. Pemandangan ini makin sering dijumpai di Desa Ledokombo. Saat itu sebenarnya sudah sekitar pukul dua belas siang. Tetapi, hari terasa seperti sudah maghrib. Maklum, hujan abu membuat sinar matahari tertutup. “Sejak minggu sudah ada hujan abu, tapi masih tipis,” jelas Kades Ledokombo Ngatari saat ditemui di rumahnya akhir pekan lalu.

Perasaan seperti suasana maghrib di desa ini bukannya tanpa alasan. Sebab abu vulkanis plus mendung menyelimuti desa ini. “Ya mau bagaimana lagi. Ya seperti ini sudah kondisinya. Harapan kami, semoga hujan abu tidak sampai merusak tanaman kami,” jelas Ngatari.

Kemudian berlanjut ke Desa Wonokerso, kondisinya lebih parah lagi. Sejumlah petani menyemprot daun kentang di lading. Itu dilakukan untuk mengusir abu yang menempel di daun. Kalau dibiarkan, daunnya menguning. Petani yang akan rugi. 

Saat hujan abu seperti sekarang, warga yang punya hewan ternak harus bekerja lebih ekstra. “Sapi tidak mau makan (rumput atau dedaunan, red) yang adanya abunya,” kata seorang warga Wonokerso yang siang itu tampak menyabit rumput.

Karenanya, rumput yang didapat, dicuci dulu sebelum diberikan ke hewan ternak. Kalaupun dipaksakan makan rumput atau dedaunan berdebu terus-terusan, hewan ternak bisa mati. Peternak akan rugi.

Urusan menjemur pakaian setelah dicuci, juga tak mudah. Selain karena sering datang kabut, sejak lima terakhir juga ada hujan abu vulkanik.

Sementara, para petani mulai was-was. Teringat memori nasib mereka ketika Gunung Bromo erupsi akhir 2010 hingga bulan-bulan awal 2011. Saat itu tanaman diguyuri hujan abu vulkanik, dan mati. Petani merugi. “Waktu itu (hujan abu, Red) sekitar enam bulan,” tambah Edi Piter dari Desa Wonokerso.

Ketika petani merugi, kuli pertanian atau buruh tani ikut terdampak. Mereka tak dapat kerja. Hujan abu vulkanik Gunung bromo pada periode 2010-2011 membuat banyak warga Kecamatan Sumber mencari kerja ke luar daerah. Tak ada pilihan lain.

Pemilik hewan ternak tak lebih baik. Bersamaan dengan sulitnya mencari pakan, harga hewan ternak terjun bebas. Harga sapi hanya ratusan ribu. Ya, ratusan ribu! Karenanya, warga berharap agar memori kelam erupsi Gunung Bromo tahun 2010-2011 tidak terulang. “Semoga hujan abu vulkanik ini tidak lama,” kata Edi Piter. (rul/iwy)

Seorang warga Desa Ledokombo, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo sedang melintas di jalan desa setempat, kemarin siang. Meski siang, suasananya sudah cukup gelap. (Choirul Umam Masduqi/Koran Pantura)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan