Peristiwa

Dipindah Tugas, Pegawai Dishub Merasa Didepak

PROBOLINGGO – Ahmad (52), seorang Pegawai Tidak Tetap (PTT) Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Probolinggo, mengeluh. Pasalnya, pria yang sudah 12 tahun mengabdi di pemkot ini diminta menulis surat pernyataan. Isinya, pengakuan kalau dirinya selama satu bulan tidak melaksanakan tugasnya.

Pria yang tinggal di Kelurahan/Kecamatan Mayangan itu ditugaskan sebagai driver. Padahal, Ahmad yang sebelumnya bertugas di parkiran itu tidak bisa mengemudi. Dampaknya, terhitung sejak menerima surat tugas sebagai driver hingga sekarang, Ahmad jarang ngantor di kantor Dishub di Jl Suroyo. Alasannya, tidak ada yang bisa dikerjakan.

Karena itu, waktu kerjanya dihabiskan Ahmad di tempat parkir truk atau terminal kargo, di Mayangan. Di tempat tersebut, Ahmad menemani rekan-rekannya yang bertugas di pintu keluar-masuk kendaraan.

“Ya, begini saya setiap harinya. Di kantor Dishub enggak ada kerjaan, ya lebih baik ke sini. Mau kerja apa di sana, lha wong saya enggak bisa nyopir,” kata Ahmad,  Rabu (20/3) siang.

Lalu diduga karena tidak bekerja sesuai Surat Perintah Tugas (SPT) sebagai pengemudi, pada hari itu Ahmad diminta untuk menulis surat pernyataan tidak melaksanakan tugas. Menurutnya, yang menyuruh menulis surat tersebut adalah Tata Usaha (TU) “Barusan selesai nulisnya. Sudah dibawa ke kantor suratnya. Saya nulisnya didikte,” tandasnya.

Pria 4 anak ini menduga, surat pernyataan terebut sebagi upaya pemberhentian dirinya secara perlahan. Selain itu, permintaan Ahmad bekerja di lapangan atau luar kantor sebagai tukang parkir, tidak pernah diindahkan. Justru ia ditugaskan sebagai driver, padahal tidak bisa nyetir. “Kalau saya lihat, ini kan upaya mau mendepak saya. Tidak masalah, kalau memang saya diberhentikan,” ujarnya.

Disebutkan, hingga sekarang, Ahmad digaji sebesar Rp 800 ribu sebulan. Tentunya, uang tersebut tidak cukup untuk biaya keluarga dengan seorang istri dan 4 anak.

Ia meminta kerja di luar kantor, selain tidak betah tugas di dalam kantor, ia akan mencari penghasilan tambahanan. “Sampeyan pikir sendiri kalau uang segitu, cukup apa enggak,” kata Ahmad. 

Sementara, Kepala TU  Dishub Kota Probolinggo Roby membantah kalau surat pernyataan dan tugas yang diberikan tidak sesuai keahliannya merupakan upaya memberhentikan Ahmad. Menurutnya, Ahmad dipindah ke tugas baru agar gajinya naik.

Selain itu, Dishub membutuhkan pegawai untuk tugas di dalam kantor. “Tugas kami pembinaan. PNS ataupun non PNS harus siap ditempatkan di mana saja. Itu ada aturannya,” tandasnya.

Roby menyebutkan, Ahmad sudah tiga kali dipindah tugas. Tujuannya, agar honor atau gaji yang diterima setiap bulan naik. Roby berterus terang, dirinya yang mengusulkan ke kepala Dishub, agar Ahmad ditarik ke kantor. Kebetulan,, kantor membutuhkan tenaga.

Pihaknya mengetahui kalau yang bersangkutan tidak bisa mengemudi. Namun karena alasan agar gajinya naik, sehingga Ahmad ditugaskan sebagai sopir. “Itu hanya SPT (Surat Perintah Tugasnya) sopir. Tetapi pekerjaannya operasional TU,” tambahnya.

Menurutnya, Ahmad masuk rumpun operasional yang di dalamnya terdiri dari petugas, pengetik, operator, pemasar, pengemudi dan medik. Yang bersangkutan dirumpun pengemudi yang gaji tiap bulanya Rp 800 ribu.

Sementara Ahmad sebelumnya dirumpun Pelayanan pada seksi parkir dan kebersihan uang gajinya Rp 768 ribu. “Karena TU butuh tenaga, kita tarik pak Ahmad, agar gajinya bertambah,” imbuhnya.

Lalu atas persoalan tersebut, Roby mengatakan akan berkoordinasi dengan kepala dinas. Terutama untuk mengetahui apakah Ahmad akan dikembalikan pada posisi semula atau dipindah ke bagian lain. “Tidak masalah kalau maunya di lapangan. Namun, gajinya tidak Rp 800 lagi. Tapi turun sesuai aturan.  Akan kami rapatkan dulu bersama Kepala Dinas,” kata Roby. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan