Peristiwa

Kena Tipu, Uang Rp 23 Juta Raib

PAITON – Nasib apes menimpa keluarga besar pengasuh Pondok Pesantren Islamiyah Syafi’iyah di Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Uang milik keluarga sebesar Rp 23 juta, raib dibawa kabur dua orang yang mengaku sebagai oknum staf Dinas Koperasi, Sabtu (9/3) lalu.

Dua orang tersebut datang dengan mengendarai mobil box. Mobil bernopol B 9010 BCB itu diparkir di depan rumah KH Achmad Fauzi Imron, pengasuh ponpes. Kiai Fauzi menemui dua tamu yang tak mereka kenal itu.

Selanjutnya, dua orang itu memperkenalkan diri sebagai perwakilan dinas koperasi. Mereka membawa mobil box untuk membawa produk-produk dagangan yang dijual dengan harga miring.

Beberapa saat kemudian, Kiai Fauzi itu memanggil putrinya, Rahmatul Maula, dan menantunya, Faisal Masudi untuk berbicara dengan dua tamu tersebut. Ketika mendengar paparan dari dua orang itu, Rahmatul Maula mulai merasakan kejanggalan. “Sebenarnya saya sudah mulai merasa enggak enak hati waktu itu,” ujarnya wanita yang akrab disapa Lala ini, Rabu (13/3).

Menurut Lala, kejanggalan itu dirasakannya saat 2 orang itu menyodorkan produk-produk tersebut. Lala sempat menyampaikan rasa curiganya kepada suaminya, Faisal Masudi. “Tapi Mas Fais (suami Lala, red) bilang nggak boleh buruk sangka. Saya kesal lalu masuk rumah,” ungkapnya.

Rupanya, Lala diam-diam memotret pelaku dan kendaraannya dari balik jendela rumah. Beberapa saat setelah itu, Lala keluar rumah. Ternyata, ayah dan suaminya sudah sepakat untuk membeli barang dari 2 orang tersebut.

“Sudah dibayar cash Rp 23 juta. Setelah itu 2 orang itu pergi. Setelah itu saya cek semua nota dan barangnya. Ternyata, 50 persen barangnya itu palsu dan tidak ada izin BPOM-nya,” ungkap Lala.

Sadar kena tipu, Lala langsung menyampaikannya pada kedua orang tua. Mendengar penuturan lalu, ayahnya hanya tertawa kecil. Sementara ibunya hanya diam tersenyum. “Kata Abah (ayah, red), ya sudah, mau gimana lagi,” kata Lala.

Lantas Lala meminta suaminya untuk menghubungi nomor orang tersebut. Namun nomornya sudah tak aktif. Secara spontan Lala meminta para santri untuk mengejar dan mencari pelaku itu. Tapi tak kunjung ditemukan. “Keluarga sudah ikhlas. Cuman Abah minta kabar ini disebar agar tidak menimpa pondok yang lain,” ungkap Lala.

Faisal Masudi, suami Lala, mengaku larut dalam perbincangan dengan orang yang menipu keluarganya itu. Faisal mengaku kepincut dengan penawaran dari dua orang tersebut. Sebab keduanya menawarkan kerjasama bisnis dengan modal cukup kecil. “Mereka mengaku dari dinas koperasi,” tuturnya.

Karena sudah terjadi, Faisal mengaku tak bisa berbuat apa pun, kecuali menerima keadaan dan bersabar. “Tapi kami sudah lapor ke polisi, dan polisi sudah melakukan olah TKP waktu itu,” paparnya.

Faisal mengaku menahan diri untuk tidak langsung menyebar kabar ke orang lain. Sebab pihaknya masih menunggu janji dari orang yang menipu keluarganya. Faisal mengungkapkan, orang tersebut berjanji akan datang kembali pada Senin (11/3). Namun yang ditunggu rupanya tak kunjung muncul batang hidungnya.

Akhirnya, pada Selasa (12/3), pihak keluarga mulai menyebarluaskan kabar mengenai peristiwa yang mereka alami itu. “Kami sebarkan kabar ini ke orang-orang biar tidak ada yang menjadi korban kedua setelah keluarga kami,” ungkap Faisal. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan