Peristiwa

Ulat Picu Kerugian Miliaran

PROBOLINGGO – Rusaknya puluhan hektare lahan sengon di Kabupaten Probolinggo oleh serangan hama ulat es krim membuat para petaninya menanggung kerugian sangat besar. Bahkan serangan hama ulat es krim atau antong itu membuat kerugiannya mencapai ratusan miliar rupiah.

Perkiraan kerugian itu didasarkan hitungan jumlah lahan dan pohon sengon yang rusak oleh serangan hama ulat.  Dalam 1 hektare lahan sengon biasanya terdapat minimal 1.100 pohon. Itu jika mengacu pada jarak tanam ideal 3 meter antar pohonnya.

Namun, biasanya para petani sengon di Kabupaten Probolinggo bisa menanam pohon sengon dengan jarak lebih rapat, yaitu di kisaran 2 meter. Sehingga jumlah pohon sengon pun turut terdongkrak hingga 2.500 pohon.

Hal itu diungkapkan Didik (43), salah seorang petani sengon asal Kecamatan Banyuanyar. Ia menyebutkan bahwa hama ulat es krim itu merusak 500 pohon sengon berusia 2 tahun yang ditanamnya di lahan seluas 2.000 meter persegi. Kerusakannya total, sehingga harus ditebang.

“Pohon sengon saya hanya kini dihargai hanya Rp 100.000 per pohon. Jadi jika ditotal, mentok dikisaran Rp 50 juta. Dikurangi pohon sengon yang tak layak tebang biasanya 30 persen, jadi tinggal sekitar 350 pohon.  Kalau dijual hanya dapat Rp 35 juta,” ujar Didik, Minggu (3/3).

Tetapi, lanjut Didik, itu belum dikurangi modal bibit, pupuk, dan perawatan selama 2 tahun yang berkisar Rp 12 juta. “Jadi bersihnya saya hanya dapat Rp 23 juta selama 2 tahun,” ungkapnya.

Hal itu jelas sangat merugikan jika dihitung dengan biaya sewa lahan sengon yang harus dikeluarkannya senilai Rp 9 juta untuk 1 kali masa tanam atau 6 tahun. Sehingga kalau ditotal Didik hanya menerima keuntungan bersih atas investasinya selama 2 tahun itu hanya Rp 14 juta. “Ya mau bagimana lagi, namanya apes. Setidaknya masih ada sisanya,” ujarnya.

Padahal, kata Didik, seharusnya dia bisa mendapatkan keuntungan dari hasil investasinya itu. Apabila tanaman sengonnya sampai pada masa panen 6 tahun, paling tidak dirinya bisa mengantongi uang hingga ratusan juta rupiah.

“Hitungannya yakni 500 pohon dikurangi penyusutan pohon. Anggap sudah 30 persen. Jadi tinggal 350 pohon, dikalikan harga pohon minimal di usia 6 tahun senilai Rp 800 ribu per pohonnya. Kalau ditotal, seharusnya saya bisa dapat sekitar Rp 280 juta. Itu hitungan kasarnya,” katanya.

Jadi kalau benar berdasarkan data ada 80 hektare lahan sengon yang rusak (dengan asumsi minimal 1 hektare ditanami 1.100 pohon), maka kerugian petani sengon di Kabupaten Probolinggo tinggal dikalikan saja. Yakni 1.100 pohon perhektare dikalikan 80 hektare jadi 88.000 pohon. Itu dikalikan harga pohon yang seharusnya didapat pada masa panen, yaitu Rp 800.000.

“Jadi sekitar Rp 50 miliar setelah dikurangi proses penyusutan atau penyortiran. Itu hitungan kerugian minimalnya. Karena saya yakin dalam satu hektare petani bisa menanam diatas 1.100 pohon,” kata Didik.

Atas masalah ini, Ketua Paguyuban Kayu Sengon Kabupaten Probolinggo Abdul Manap pun tak menampik hitung-hitungan perkiraan kerugian tersebut. Sebab menurutnya, sengon merupakan tanaman industri yang sangat menjanjikan. Terlebih apabila tanaman sengon bisa sampai pada masa panen dan diameter batangnya mencapai  1 meter.

“Kalau diameter pohonnya diatas 1 meter, harganya bisa tembus 1 juta per pohon. Namun inilah bisnis. Kadang untung, kadang juga rugi. Namun, serangan hama ulat es krim ini terus terang sudah sangat merusak dan merugikan para petani sengon,” akunya, kemarin.

Oleh karena itu, Manap berharap agar pihak pemerintah daerah juga turun tangan dalam mengatasi serangan hama ulat ini. Karena jika dibiarkan dapat mengancam keberadaan ribuan hektare lahan sengon lainnya yang masih sehat. “Selain merusak tanaman, hama sengon ini juga membahayakan bagi warga di pemukiman. Sebab, serbuk putihnya itu sangat gatal dan panas kalau kena kulit,” katanya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan