Peristiwa

Ribuan Itik Mati karena Flu Burung


PROBOLINGGO – Sejak awal Januari lalu, sebanyak 2.250 ekor itik milik 6 peternak di Desa Kertosono, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, mati secara mendadak. Investigasi pun dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Probolinggo dan Balai Desa Veteriner Wates Yogyakarta. Hasilnya, kematian ribuan unggas itu dikarenakan serangan virus avian influenza atau flu burung.

Kepala Disnakeswan setempat Endang Sri Wahyuni melalui Kepala Seksi Kesehatan Hewan drh. Novita Dwi mengungkapkan, kematian 2.250 itik itu terjadi di 2 lokasi berbeda pada Senin, 7 Januari. Namun hal tak wajar itu baru dilaporkan kepada petugas koordinator wilayah Disnakeswan pada 3 Februari lalu.

Laporan itu disampaikan oleh 2 peternak, yakni Farida dan Tjipto. Keduanya adalah warga Dusun Bataan, Desa Kertosono. “Dari hasil investigasi dan inventarissasi, kami menemukan jumlah populasi itik sebanyak 4.200 ekor. Angka kematian itik mencapai 2.250 ekor,” kata Novita Dwi, Rabu (27/2).

Pihaknya telah melakukan observasi dan uji lab di Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta. Instansi ini turut dalam investigasi yang dilakukan Tim Reaksi cepat (TRC) Disnakeswan pada 4 Februari, atau sehari setelah laporan diterima.

“Gejala klinisnya berupa mata biru, leher terpuntir atau tortikolis, jalan sempoyongan, diare hijau keputihan. Kematian itik berkisar antara 20-25 ekor per hari. Dari gejala itu dapat kami pastikan itu serangan virus flu burung,” tegasnya.

Kematian masal itu terjadi karena penularan virus melalui cairan atau lendir yang berasal dari lubang hidung, mulut, dan anus unggas yang sakit ke lingkungan kandang yang kebersihannya kurang terjaga dengan baik. Sehingga terjadi kontak langsung antara itik yang sakit dengan itik yang sehat. Hal itulah yang memudahkan serangan virus flu burung.

“Serangan tidak langsungnya bisa lewat pakan dan air minum, pekerja kandang, kandangnya dan peralatan peternakan. Bisa juga dari rak telur, keranjang ayam, dan alat transportasi yang tercemar virus flu burung,” paparnya.

Sebagai langkah pencegahan meluasnya serangan virus tersebut, Disnakeswan melakukan desinfeksi kandang unggas yang tercemar. Pihaknya juga meminta peternak untuk menjaga kebersihan pakaian pekerja dan perlengkapan peternakan. Yakni dengan mencucinya menggunakan sabun atau detergen serta disemprot desinfektan.

“Untuk unggas yang masih hidup, kami telah melakukan pemberian mutivitamin dan antibiotik selama 5 hari berturut-turut. Itu untuk mengurangi infeksi sekunder. Setelah itu dilakukan vaksinasi flu burung,” terang Novita Dwi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesmavet, Pengolahan dan Pemasaran pada Disnakeswan setempat drh. Nur Eko Widianto mengatakan, meski ada ribuan ekor itik mati, namun pihaknya tidak memandang sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Pasalnya, serangan virus ini tak lagi membahayakan bagi manusia.

“Sejak tahun 2004 lalu sepertinya virus ini bermutasi, sehingga tak lagi menyerang manusia dan hanya menyebabkan kematian pada unggas. Jadi, tidak perlu dianggap sebagai KLB. Masyarakat tidak perlu resah karena penanganan terbaik sudah kami lakukan guna mencegah penyebaran virus ini ke daerah atau kandang lainnya,” urainya.

Yang terpenting kata Nur Eko, para peternak lebih waspada dan mengedepankan kebersihan kandang. Mereka diminta rutin memberikan multivitamin dan antibiotik agar ternaknya tak mudah terserang penyakit.

“Kalaupun ada ternak yang mati atau sakit mendadak, dan gejalanya mencurigkakan, mohon segera melapor ke petugas korwil kami yang ada di desa atau kecamatan. Laporan itu perlu kami terima agar petugas kami bisa memastikan penyebab kematian ternak. Sehingga diagnosanya tepat dan penanganannya juga tepat,” kata Nur Eko. (tm/eem)


Bagikan Artikel