Peristiwa

Gegara Air Hujan, Jalan Ditembok Warga


PROBOLINGGO – Gara gara aliran air hujan, sejumlah warga di Jalan Serma Abdurahman Gang  Kusuma Bakti RW 6 Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, berseteru. Bahkan, sebulan lalu, akses jalan umum di RT tersebut dibangun tembok setinggi dua meter lebih. Akibatnya, sejumlah warga tak bisa mengakses ke rumahnya sendiri.

Pembangunan tembok itu sendiri dilakukan di jalan penghubung antar RT 2 dan RT 3. Oleh karena itu, akses jalan menuju RT 3 terhalang.

Informasinya, warga yang berseteru itu adalah pasangan suami istri Anik Susanti (48), dan Handoko (50), dengan delapan kepala rumah tangga di RT 2. Konflik horizontal itu terjadi berawal saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan setempat. Air hujan tak mampu tertampung di drainase.

Ini terjadi sejak 1997. Selama 24 tahun berjalan, mereka saling komplain bahkan debat kusir untuk mempertanyakan tanggungjawab masing-masing. Bahkan, antar warga saling mempertahankan pendapatnya masing-masing.

Seperti misalnya tembok rumah Anik terkikis air dari rumah tetangganya. Akibatnya, Anik menambah ketebalan tembok.

Oleh karena itu, Anik menyampaikan kepada warga di pinggir selatan rumahnya untuk mengantisipasi hal tersebut. Kemudian, warga menurutinya.

Selain itu, soal pengaspalan jalan yang hanya dilakukan di jalan RT 2 atau tak sampai RT 3. Karena di depan rumahnya tak diaspal, Anik meratakan dengan tanah sebanyak 4 kali. Namun, dikarenakan adanya genangan air, tanah menjadi tersapu hilang.

Puncak konflik itu terjadi setelah tak ada yang mengalah antar warga pada 9 Desember 2021. Sebelumnya, Anik membangun polisi tidur supaya genangan air tak masuk di depan rumahnya.

Sedangkan, warga RT 3 atau sebanyak 8 kepala keluarga yang kesal membangun tembok setinggi 2 meter dengan cara iuran. Tembok yang dibangun itu berada ditengah jalan penghubung antar RT 3 dan RT 2.

Ketua RT 2 – RW 6 Sunanti Pinda (50) mengatakan, masalah ini bermula saat air mengalir ke arah utara melalui rumah Anik. Akhirnya Anik membangun polisi tidur. Sehingga air mencapai tinggi betis orang dewasa.

Lantas untuk menyelesaikan persoalan itu, pihaknya berkoordinasi bersama Ketua RT 3 dan Ketua RT 2 di rumah Ketua RW 6 Heri. Warga meminta jalan air, namun tak diberi oleh Anik. “Alasannya, halaman rumahnya terkikis kata Anik. Sempat gontok-gontokan dan tudingan. Kata Anik melihat hujan dulu, ternyata masih hujan dan mengikis kembali,” ungkapnya.

Sunanti Pinda kemudian menyatakan kepada warganya untuk berbicara baik-baik kembali. Suami Anik maunya memberi, tetapi Anik menolak. ” Saat warga yang melintasi jalan depan rumahnya atau tanah milik saudara Anik, malah ditutup. Karena emosi, warga tak terkendali dan ikutan menutup jalan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, warga selanjutnya menutup jalan dan membangun resapan air. Karena konflik itu, warga RT 2 mau merusak kembali asal ada ganti dari Anik. “Besarannya Rp 3,5 juta,” ucapnya

Sementara itu, Anik mengatakan, berawal dari talang air tetangganya terkena rumahnya sejak tahun 1997. Pihaknya menyampaikan kepada tetangganya. Ternyata apa yang dimaksud Anik benar terjadi. Tembok belakang rumahnya terkikis.

“Sebelah rumah ini, talang rumah dibuka lagi. Kemudian kena. Saya capek tukaran terus sebenarnya. Karena hujan terus, tanah di depan rumahnya tersapu. Juga rumahku tidak diaspal. Sehingga aku bruk tanah di depan rumah karena selalu tergerus 7 tahun lalu,” ungkapnya.

Ia kemudian berinisiatif untuk bruk tanah dengan iuran bersama warga di utara rumahnya. Pihaknya mengaku jika membangun polisi tidur. Sedangkan, ia juga sudah berbicara kepada warga untuk membangun resapan air.

“Polisi tidur tidak tinggi. Nah, pas cekcok, kata warga sebelah RT dan RW menyetujui. Saya nggak bisa bilang wis. Saya tanyakan ke RW ternyata benar,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Anik mengungkapkan jika pihak keberatan saat mengganti uang pembangunan tembok. Ia menginginkan untuk tembok itu dibongkar. ” Karena itu jalan milik pemerintah,” paparnya.

Sementara itu, Plt Camat Mayangan Mohammad Abbas mengatakan pihaknya sudah mengurus soal konflik antar warga hingga penutupan jalan tersebut. Ia menyampaikan sementara ini pihaknya akan melakukan mediasi kepada dua belah pihak.

Di sisi lain, Abbas mengaku penutupan jalan tersebut harus dibongkar. Sebab, itu jalan milik pemerintah. “Supaya kesannya tak langsung bongkar, maka kami masih melakukan mediasi antar kedua belah pihak,” ucapnya. (rul/iwy)


Bagikan Artikel