Peristiwa

Rumah Dieksekusi, Pemilik Menjerit


PROBOLINGGO – Pengadilan Negeri Kraksaan melakukan eksekusi lahan di rumah milik Andi Ainul Arifin di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Selasa (21/12). Sayangnya pihak keluarganya menolak lantaran keputusan tersebut dinilai tidak adil.

Eksekusi itu dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB. Sejumlah petugas dari pengadilan dan Polres Probolinggo mendatangi rumah tersebut. Mereka langsung mengeluarkan barang-barang Andi ke luar. Lalu memagari rumah itu dengan pagar bambu.

Sayangnya, pihak keluarga Andi menolak dan bahkan menjerit-jerit lantaran tak terima keputusan tersebut. Mereka tak ingin barang itu dikeluarkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Pantura, sebelum eksekusi itu dilakukan, Andi Ainul pernah melakukan pinjaman pada Bank Danamon sekira Rp 75 juta, sekitar tahun 2012. Rumah Andi sebagai jaminannya. Selang beberapa saat kemudian, Andi sudah mengembalikannya senilai Rp. 40 juta.

Namun, sisa yang belum terbayarkan hingga jatuh tempo itu membuat Bank Danamon menjatuhkan keputusan. Pihak bank melelang rumah dan dimenangkan oleh Galih Prakoso, warga Kota Probolinggo pada tahun 2013.

Lahan tersebut berupa sebidang tanah dengan ukuran 745 meter persegi. Di atas tanah itu berdiri sebuah rumah yang berada tepat di pinggir jalan Jalur Pantura Desa Sukokerto Kecamatan Pajarakan.

Keluarga Andi tak menerima atas keputusan lelang tersebut. Sehingga mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan. Keputusannya dimenangkan oleh Andi. Begitu pula di Pengadilan Tinggi (PT). Namun ketika mengajukan kasasi ke Mahakmah Agung (MA), gugatan Andi kalah.

“Tidak hanya Andi yang kalah di MA. Galih Prakoso yang mengaku pemenang lelang juga kalah di MA,” ungkap Humaniah, salah satu keluarga Andi.

Ia menyatakan ada banyak kejanggalan yang muncul dalam proses hukum tersebut. Pihaknya yang cukup mengerti teori hukum berharap, pratik hukum itu benar-benar dijalankan. “Masak mungkin rumah sebesar ini yang ditawar Rp 2 Miliar hanya dilelang Rp 90 juta,” kata dia.

Sementara itu, Humas PN Kraksaan, Safrudin menyampaikan, pihaknya melakukan lelang berdasarkan keputusan pengadilan. Namun, keputusan lelang yang telah keluar tahun 2013 lalu, tak kunjung lakukan lantaran ada pengajuan gugatan dari pihak pemohon (keluarga Andi), sehingga pihaknya menunda eksekusi tersebut.

Namun, karena keputusan pengadilan hasil gugatan itu jelas, sehingga eksekusi tersebut kini harus segera dilakukan. “Sehingga kami harus melakukan apa yang sudah menjadi keputusan pengadilan. Jika ingin melakukan upaya hukum, silahkan dilakukan,” ujarnya.

Sementara, Galih Prakoso mengatakan, pihaknya mendapatkan rumah itu dari hasil lelang Bank Danamon. Dari lelang itu, ia berhasil mendapatkan rumah tersebut dengan angka sekitar Rp. 97 juta. “Saya menang lelang tahun 2013 lalu,” ungkapnya. (yek/iwy)


Bagikan Artikel