Peristiwa

Cuaca Buruk Sepekan ke Depan

PROBOLINGGO – Cuaca buruk di wilayah Kabupaten Probolinggo diprediksi masih akan berlangsung hingga sepekan ke depan. Hal itu berdasar analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda Surabaya. Terkait hal itu, peringatan dini kembali dikeluarkan oleh BMKG.

Kemarin (22/1) BMKG melakukan analisis dinamika atmosfer. Hasilnya, terpantau adanya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia yang masuk ke wilayah Jawa. Termasuk Jawa Timur. Bahkan potensi gejala cuaca ekstrim ini berlaku secara mayoritas di wilayah Indonesia. Situasi tersebut diperkirakan berlangsung selama sepekan ke depan.

Prakirawan BMKG Juanda Surabaya Teguh Tri Susanto mengatakan, akan ada hujan lebat pada kurun 23-26 Januari. “Penyebabnya karena masih kuatnya monsun dingin Asia beserta hangatnya suhu muka laut di wilayah perairan Indonesia. Hal itu menyebabkan tingkat penguapan dan pertumbuhan awan cukup tinggi,” terang Teguh kepada Koran Pantura, kemarin.

Dari pantauan pergerakan angin, BMKG Juanda mendeteksi adanya daerah pertemuan angin yang konsisten dalam beberapa hari terakhir. Yakni di Laut Jawa, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

“Kami berkordinasi dengan pusat. Mereka memonitor adanya 3 bibit badai tropis di dekat wilayah Indonesia,” ujarnya.

Salah satu bibit siklon yang saat ini berada di Laut Timor (94S) berpotensi meningkat menjadi siklon tropis dalam 3 hari ke depan. Bahkan mengakibatkan potensi cuaca ekstrem berupa angin kencang.

Tiupan angin dapat mencapai di atas 25 knot (46,3 km/jam). Situasi tersebut diprediksi terjadi di Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung,  Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Juga di Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan. “Kami kembali mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan siaga dalam menghadapi periode puncak musim hujan 2019,” ungkapnya.

Teguh menyebut fenomena alam yang dapat terjadi, muncul sebagai dampak dari curah hujan tinggi. Hal itu diprediksi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang dan angin kencang yang meningkat. (ra/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan