Peristiwa

7 Hari Tidur di Mobil Urus Legalisir Ijazah


PROBOLINGGO – Syarat vaksinasi dosis 1 dan 2 yang harus dipenuhi, bukan satu-satunya perjuangan para bakal calon kepala desa (bacakades). Syarat ijazah terlegalisir ternyata juga menguras waktu dan tenaga.

“Tujuh hari saya tidur miring meringkuk di dalam mobil selama mengurus legalisir ijazah, dan hasilnya massih belum ada.”  Kalimat itu dilontarkan Kasmidi, salah satu bacakades yang hingga kini sedang mengurus kelengkapan berkasnya untuk maju di Pilkades serentak, Februari 2022.

Untuk keperluan legalisir ijazah, dia harus mengurusnya di Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo. Seperti bacakades lainnya, ia berangkat ke dispendik dengan penuh keyakinan, legalisir ijazahnya bisa cepat kelas ditandatangi Kadispendik.

Warga Desa Ledokombo, Kecamatan Sumber tersebut mulai mengurus legalisir ijazahnya sejak Jumat (29/10) lalu. Perjuangannya untuk mendapatkan legalisir ijazah mulanya ia jalani dengan penuh kesabaran. Selama 7 hari ia menginap di dalam mobilnya yang ia parkir di pinggiran jalan Kota Kraksaan.

Selama seminggu itu juga ia selalu mengenakan sepatu yang dibawanya dari rumah pada saat siang hari demi menghormati pegawai di kantor Dispendik setempat. Ia hanya melepas sepatunya pada malam hari, atau ketika ia hendak beristirahat. Akibatnya, jemari-jemari kakinya membengkak, karena terlalu sering jemarinya bergesekan dengan sepatu.

Namun, perjuangannya itu ternyata masih belum selesai. Hingga, Senin (8/11) siang atau pada hari ke-11, ia masih juga mengurusi berkas itu dan belum mendapatkan legalisir ijazahnya. “Sudah 7 hari saya tidur miring meringkuk di dalam mobil selama mengurus legalisir ijazah, dan hasilnya masih belum ada,” ujar pria berumur 45 tahun tersebut, kemarin.

Sambil menunjukkan jemari-jemari kakinya yang membengkak, Kasmidi menceritakan, mulanya berkas-berkas yang ia bawa untuk mengurus legalisir ijazahnya tersebut sudah dinyatakan lengkap 90 persen oleh petugas bagian administrasi Dispendik. Ia hanya perlu membawa 2 orang saksi yang bisa membenarkan bahwa dirinya pernah lulus sekolah. Sebab, ijazah yang ia gunakan merupakan ijazah Paket B.

Untuk hal tersebut, Kasmidi pun terpaksa harus pulang ke rumahnya pada hari ke-7 atau pada Kamis (4/11) lalu untuk melengkapi syarat legalisir ijazahnya. Jarak yang jauh, ditempuhnya dengan penuh harapan legalisirnya bisa kelar ketika ia sudah membawa sakti.

Keesokan harinya, ia kembali mendatangi kantor Dispendik setempat dengan 2 orang saksi. Namun, di sini ia harus menerima pernyataan yang pahit, sebab, beberapa berkas yang sebelumnya sudah ia setor, hilang. Sehingga, kesaksian 2 orang tetangganya itu, tidak bisa membuat legalisir ijazahnya keluar di hari itu juga seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

“Surat Keterangan Domisili saya hilang, Surat Keterangan Kehilangan Ijazah juga hilang, padahal ketika disetor lengkap. Saat ditanya, pihaknya Dispendik tidak ada yang bisa menjelaskan,” ujarnya.

Dengan kenyataan itu, Kasmidi pun terpaksa harus pulang kembali ke rumahnya. Semangatnya untuk memajukan desa Ledokombo, Kecamatan Sumber, tidak pupus. Sebab, ia mengaku keinginan dirinya untuk maju di ajang pilkades juga tidak terlepas dari dorongan warga setempat yang menganggapnya sebagai tokoh masyarakat yang selalu memperjuangkan Wisata P-29 dari awal agar tidak diklaim oleh Pemerintah Lumajang.

“Hari ini saya kembali ke Dispendik untuk melengkapi berkas saya yang kemarin sudah dihilangkan, semoga bisa segera ditandatangani,” terangnya. (ay/iwy)


Bagikan Artikel