Peristiwa

Tujuh Bulan, 63 Bencana Alam


PROBOLINGGO – Kabupaten Probolinggo masih menjadi daerah rawan bencana alam. Terbukti, selama tujuh bulan dalam tahun ini, sudah terjadi 63 bencana yang melanda Kabupaten Probolinggo.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, dari Januari hingga akhir Juli lalu, sedikitnya telah terjadi sebanyak 63 kali bencana alam. Adapun dampak bencana alam tersebut meliputi sedikitnya 9.820 unit rumah dan infrastruktur tergenang atau rusak, serta menimbulkan 3 korban luka-luka dan 2 meninggal dunia.

Personel Pusat Pengendalian Operasi-Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Kabupaten Probolinggo Silvia Verdiana menjelaskan, 63 bencana alam itu mayoritas adalah bencana banjir yang terjadi sebanyak 22 kali. Disusul bencana tanah longsor sebanyak 20 kejadian, angin kencang 15 kejadian, banjir rob 4 kejadian, musibah tenggelam dan gempa bumi masing-masing 1 kejadian.

“Kejadian bencana alam terparah yakni bencana banjir yang terjadi pada akhir bulan Februari hingga pertengahan Maret lalu. Dimana skala dan dampak banjir tersebut, telah menyebabkan ribuan rumah tergenang dan membuat ratusan warga mengungsi,” ujar Silvia, Rabu (18/8).

Menurutnya, bencana alam yang terjadi antara bulan Januari hingga Juli lalu itu telah merusak berbagai infrastruktur permukiman, fasilitas pendidikan, dan fasilitas umum. Rinciannya, sebanyak 33 rumah rusak ringan, 27 rumah rusak sedang, dan 32 rumah rusak berat, serta 9.698 rumah tergenang.

“Dampak kerusakan akibat bencana alam ini paling banyak terjadi di kecamatan Dringu disusul Kecamatan Paiton. Karena di dua kecamatan tersebut sebelumnya dilanda bencana banjir, yakni bencana banjir luapan sungai Kedunggaleng dan banjir pasang air laut atau rob,” jelas Silvia.

Lebih lanjut menurutnya, mulai bulan Agustus hingga akhir tahun ini, masyarakat diminta untuk tetap waspada akan kemungkinan bencana alam. Pasalnya bencana alam akibat terjadinya dinamika cuaca dimungkinkan dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Seperti kejadian di Desa Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih pada 13 Agustus lalu. Kejadian angin kencang telah merusakkan dapur milik salah satu warga desa setempat. Peristiwa serupa dimungkinkan untuk terjadi kembali seiring terus terjadinya dinamika cuaca selama sisa musim kemarau ini,” sebutnya.

Saat ditanya penyebab masih terjadinya hujan di musim kemarau, Silvia mengatakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar terjadi. Sebab, dinamika cuaca yang dinamis dan tak tentu, sehingga curah hujan dimungkinkan terjadi sekalipun musim kemarau, ataupun sebaliknya. “Dinamika cuaca sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer itu sendiri,” katanya.

Bahkan, Silvia memaparkan bahwa dalam sepekan ke depan potensi hujan dengan intensitas ringga hingga lebat dan disertai petir dan angin kencang, masih dimungkinkan terjadi di wilayah Kabupaten Probolinggo. “Kami menghimbau kepada masyarakat agar tetap selalu waspada dengan potensi bencana disekitarnya,” ujarnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel