Peristiwa

Bupati Marah, Minta Usut Soal Rebut Paksa Jenazah


PROBOLINGGO – Aksi rebut paksa dan pembongkaran peti jenasah Covid-19 yang terjadi di Desa Tigasan Wetan, Leces, Kabupaten Probolinggo, Minggu (8/8), mengundang keprihatinan sekaligus kemarahan Bupati Hj. P Tantriana Sari. Pasalnya, berdasarkan laporan yang diterimanya, aksi itu justru terjadi setelah pihak keluarga memberikan izin kepada pihak rumah sakit untuk melaksanakan proses pemakaman secara protokol kesehatan (prokes).

            Dalam SOP-nya sudah sangat jelas bahwa setiap jenasah yang meninggal dunia akibat positif Covid-19 akan dimakamkan sesuai dengan syariat agama. Hal itu sudah sangat jelas disampaikan pada pihak keluarga.

“Sejak awal pandemi Maret 2020 lalu, hingga saat ini, saya berikan amanah pada rumah sakit, harus sesuai dengan syariat agama, dipandu oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Itu sudah klir. Tim benar-benar melaksanakan syariat itu. Tetapi kenapa masih terjadi? Saya berhak marah atas hal ini,” ujar Bupati Tantri di pendapa Kabupaten Probolinggo, Senin (9/8).

Istri Wakil Ketua Komisi IV DPR RI H. Hasan Aminuddin itu mengatakan, aksi  rebut paksa dan pembongkaran peti jenazah terjadi  kesekian kalinya. Dampak dan resikonya sangat jelas untuk proses pemulasaran jenasah Covid-19 ke depan. Bahkan diyakini, jika kejadian serupa terus terulang, bukan tidak mungkin akan menjadi efek domino yang akan membuat warga semakin berani dan mengabaikan protokol kesehatan.

“Karena itu, kami meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini. Agar jadi pembelajaran dan menghindari peristiwa serupa kembali terulang kembali,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bupati Tantri menegaskan, pihaknya dari awal pandemi tak main-main dengan aturan. Segala upaya penegakan disiplin semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan warga kabupaten Probolinggo dari bahaya penyebaran Covid-19 yang nyata ada. Salah satunya dengan membiasakan patuh protokol kesehatan di segala sendi kehidupan masyarakat. “Selain 5M, satu lagi yang harus diterapkan masyarakat. Jadi 6M. Satunya itu ‘Manuto’,” tegasnya.

Sementara itu, Kaporles Probolinggo AKBP Teuku Arsya Khadafi menyebutkan, pihaknya sudah mendengar laporan dari anggotanya terkait dengan adanya aksi rebut paksa dan pembongkaran peti jenazah di Desa Tigasan Wetan. Menurutnya hal tersebut, sudah tidak bisa ditolerir lagi dan akan segera memerintahkan kepada anak buahnya untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

“Akan segera kami usut pihak-pihak yang melanggar undang-undang protokol kesehatan itu dan memprosesnya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” jelas Kapolres. (tm/iwy)


Bagikan Artikel