Perdagangan

Tergerus Era Online, 6.106 Usaha Skala Kecil Turun Status


PROBOLINGGO – Keberadaan pasar fisik, seperti Pasar Semampir, Pasar Buah, dan Bazar Car Free Day sudah tidak lagi bisa mendongkrak UMKM. Buktinya, pada tahun ini disebutkan sampai ada 6.106 usaha skala kecil yang turun kasta, dari usaha kecil menjadi usaha mikro. Mereka kalah pemasaran dengan mereka yang jual beli online.

Plt Kepala DKUPP Kabupaten Probolinggo Dwijoko Nurjayadi melalui Kepala Bidang Usaha Mikro Zulkarnain mengatakan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki peran penting dan strategis. Dominasi sebagai penggerak ekonomi nasioanal tak lagi diragukan. Bahkan menjadi penopang ekonomi masyarakat dalam kondisi krisis ekonomi dan masa pandemi.

UMKM mampu menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Penyerapan tenaga kerja tersebut menunjukkan UMKM mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sehingga mengurangi pengangguran dan kemiskinan, katanya.

Zulkarnain menjelaskan kontribusi dan peran UMKM yang sangat strategis menjadi penting bagi seluruh stakeholder untuk mendukung melalui berbagai program edukasi dan pendampingan. Sehingga peran sebagai penggerak ekonomi nasional semakin optimal.

Pemberdayaan UMKM tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga masyarakat harus mengambil peran sebagai penggerak, jelasnya.

Menurut Zulkarnain, di era global dan serba digital seperti saat ini UMKM khususnya wirausaha pemula membutuhkan dukungan dan strategi untuk berdaya saing dalam mengembangkan usahanya, melalui proses pemasaran yang tepat dan maksimal serta jejaring konektivitas antar UMKM dengan komoditas yang sama akan memeperkuat informasi mengenai potensi penjualan baik dalam negeri maupun luar negeri.

Fenomena digitalisasi dalam pemasaran merupakan sebuah kesempatan yang memberikan banyak kemudahan bagi pelaku UMKM dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Kemudahan yang kita peroleh antara lain dalam promosi produk, kemudahan mencari informasi pasar melalui internet dan kemudahan untuk memasarkan produk melalui e-commerce, terangnya.

Lebih lanjut Zulkarnain menegaskan pemasaran digital mencakup banyak aspek yang tentunya memiliki fungsi tersendiri dari setiap aspeknya. Contohnya fitur untuk melakukan analisis pasar melalui google trends dan google analytic.

Kita juga bisa memanfaatkan fitur Ads dalam sosial media untuk dapat mempromosikan produk yang kita miliki dengan sistem berbayar dan konten marketing terkait dengan pembuatan konten-konten yang menarik bagi konsumen sehingga meningkatkan kepercayaan terhadap produk, tuturnya.

Namun tidak semua pelaku UMKM ahli dalam tekonologi jual beli online dan promosi online. Maka ini yang terjadi.

Sekitar 6.106 usaha skala kecil di Kabupaten Probolinggo yang turun status. Ribuan usaha kecil itu kini menjadi usaha berskala mikro. Sehingga jumlah usaha skala mikro pun bertambah hingga puluhan ribu.

Berdasar data Dinas Koperasi Usaha Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) setempat, pada tahun 2020 ada sebanyak 62.262 usaha berskala mikro, 6.106 usaha berskala kecil, dan 483 usaha berskala menengah.

Sementara, tahun 2021, tersapat sebanyak 68.389 usaha mikro, dan 483 usaha berskala kecil. Sedang jumlah usaha berskala menengah masih nihil. Tidak ada pengurangan jumlah. Hanya penurunan status. Usaha kecil turun status menjadi usaha mikro. Jadi jumlah usaha mikro bertambah, ungkap Zulkarnain.

Tidak hanya desakan teknologi online, penurunan status itu lantaran terbitnya PP No. 7 tahun 2021, tentang Kemudahan, Pelindungan, dan Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Dalam PP itu disebutkan kriteria terbaru untuk omzet pada masing-masing jenis usaha.

Usaha mikro memiliki omzet atau hasil penjualan tahunan sampai dengan Rp 2 miliar. Kemudian, usaha kecil memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2 miliar sampai dengan Rp 15 miliar. Usaha menengah memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 15 miliar sampai dengan Rp 50 miliar. Maka dari itu, status usaha banyak yang turun. Termasuk usaha batik Rengganis, yang sebelumnya usaha kecil menjadi usaha mikro, jelasnya.

Sementara jumlah usaha berskala menengah saat ini masih dalam program pendataan ulang. Pendataan itu hingga kini masih terus dilakukan di setiap kecamatan. Kemungkinan dalam beberapa bulan mendatang data rekapituasi itu selesai.

Selain itu, selama dua tahun terakhir itu, tepatnya di masa pandemi, jumlah usaha di Kabupaten Probolinggo, cenderung stabil. Meski faktanya banyak usaha gulung tikar, namun jumlahnya masih tak banyak berubah. Sebab, menurutnya, usaha warga yang ambruk lantaran pandemi membuat mereka harus beralih bisnis.

Misalnya jual pentol beralih jadi jual baju. Sehingga jumlah tetap namun jenis usaha sedikit berubah, ungkapnya terkait usaha kecil di Kabupaten Probolinggo yang turun status jadi usaha mikro. (ra/iwy)


Bagikan Artikel