Perdagangan

Bayu, Mantan Pegawai Bank yang Rintis Qa Donat


PERJALANAN dari seorang karyawan beralih merintis bisnis sendiri, tidaklah mudah. Namun itulah yang dilakukan Bayu Setiawan, seorang warga Kota Kraksaan. Dia awalnya bekerja di bank. Namun setelah memiliki modal, akhirnya ia memilih terjun di dunia usaha.

Setelah mencoba berjualan aneka jenis jajanan, dia akhirnya konsisten menjual donat. Donat, menurutnya kue jadul namun populer sepanjang masa. “Saat ini menjadi tumpuan usaha kami,” kata Bayu kepada Koran Pantura Online.

Bayu bercerita, pada 2016 ia mantap keluar dari pekerjaan di bank. “Bermodal nekat, kami memulai usaha kecil dari berjualan minuman, jadi dropshipper baju-baju, hingga usaha kami terkatung-katung karena modal yang minim,” kata pria kelahiran Probolinggo 5 Mei 1989 itu.

Namun akhirnya, setahun kemudian istrinya, Dewi Fatmawati, 30, mencoba meracik adonan donat dan mengreasikan dengan toping lucu-lucu serta tambahan tulisan sesuai permintaan pembeli. Seiring usaha yang tetap dijalani, Bayu memberanikan diri merubah racikan dan sambil lalu belajar secara otodidak, mencoba membuat adonan sendiri mulai dengan tangan secara manual, hingga kini sudah bisa membeli mesin pengaduk adonan rakitan.

“Alhamdulillah, rasa dan kualitas donat kami mulai membantu branding donat kami. Merk donat kami, Qa Donat, mulai tak asing di telinga para pecinta kuliner khususnya di Kota Kraksaan,” ujar pria yang memiliki 3 putri itu.

Mulai dari postingan di media sosial, dan bantuan referensi dari mulut ke mulut pelanggan, alhasil usaha Bayu masih bisa konsisten sampai sekarang. Kini, dengan adanya ojek online juga memudahkan pemasaran donatnya.

Bayu memiliki saran untuk mereka yang masih merintis usaha. “Tekuni saja karena jika kita sudah ahli di bidangnya, urusan rejeki akan dipermudah oleh Yang Maha Kuasa walaupun tak selamanya usaha itu berada di titik aman,” papar pedagang yang berjualan di rumahnya, Dusun Karang Asem Desa Kebonagung itu.

Bayu mengutip kata-kata Cak Nun, “Ancene ngene urip iki. Masio lunyu, kudu tetep menek (Memang beginilah hidup. Meskipun licin, tetap harus memanjat).” Jadi kata Bayu, naik turunnya usaha harus dijadikan cambuk untuk tetap produktif dan melayani pelanggan dengan baik.

Bayu adalah alumnus SDN Kraksaan Wetan 2, SMPN 1 Kraksaan (2004), dan SMAN 1 Kraksaan (2007). Dia selalu duduk di kelas unggulan. Sehingga dia bersyukur berkah ilmunya itu bisa mengantarnya jadi seorang pelaku usaha. (ra/iwy)


Bagikan Artikel