Pendidikan

Tukang Meubel Banting Setir Jadi Pembatik


KREJENGAN – Pada akhir Maret lalu Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang program seragam batik pelajar. Kebijakan itu berdampak, tidak hanya bagi produsen batik lokal, namun juga turut membuka lapangan kerja baru. Bahkan, kini beberapa warga banting setir jadi perajin batik.

Dua pria berdiri berdampingan di sebuah ruangan suatu rumah di Desa Gebangan, Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo, Senin (8/4). Satu orang menghamparkan kain putih di sebuah meja. Satunya lagi tengah menunggu mendidihnya ‘malam lilin’ yang diinjak 2 buah canting cap.

Mereka adalah Andriyanto (29) warga Desa Kandangjati Wetan dan Syahrul (35) warga Desa Alassumur Kulon, Kota Kraksaan. Keduanya dalam masa pelatihan membatik di IKM Padang Sapura Batik. “Baru hari ini (kemarin, red) belajar membatik. Dari jam 10 tadi mulainya,” tutur Syahrul di sela kegiatannya membatik, kemarin (8/4).

Dia bersama Andriyanto mendapatkan tawaran pekerjaan baru sebagai perajin batik di IKM tersebut. Sebelumnya, mereka bekerja sebagai tenaga kerja pembuat meubel. “Ini buat pengalaman kerja baru. Siapa tahu saja lebih sejahtera bekerja di sini,” ungkapnya.

Andriyanto sedang membatik kain yang akan digunakan sebagai seragam pelajar. (Deni Ahmad Wijaya/Koran Pantura)

Andriyanto juga mengaku senang dengan tawaran pekerjaan barunya itu. Dia menyebut, sebagai tukang meubel tidak terlalu menjamin pendapatan hariannya, tergantung kondisi pasar. “Kalau waktu ada bahan, baru garap. Tapi kalau kosong, ya nganggur,” sebutnya.

Jika mereka sedang mendapatkan garapan, biasanya pundi rupiah yang bisa dikantongi sekitar Rp 300 ribu per pekan atau jika dihitung harian, maka ia mendapatkan sekitar Rp 42 ribu per hari. “Disini katanya diupah Rp 5 ribu per lembar. Kalau sehari dapat 10 lembar, ya lumayan,” ucapnya.

Pemilik IKM Padang Sapura Batik Abrori Hidayat menyebutkan, pihaknya memang merekrut tenaga kerja baru. Pasalnya, usai diterbitkannya SE Bupati tentang seragam batik pelajar, maka pihaknya ingin garapannya cepat selesai.

“Saya butuh 9 tenaga kerja lagi. Terdiri dari 3 orang bagian ngecap batik, bagian perebusan 2 orang dan bagian pewarnaan 4 orang. Sementara ini kami hanya punya 5 karyawan, 6 dengan saya,” beber Abrori.

Pria 42 tahun ini memaparkan, rata-rata produksi batiknya sekitar 40 lembar per hari per meja. Setiap meja biasanya digarap hanya oleh 1 orang saja. Artinya, setiap tenaga pembatik bisa mengantongi upah Rp 200 ribu per hari.

Namun, itu jika perajin batiknya sudah mahir. “Trainning untuk mereka (Andriyanto dan Syahruul, red) ditarget seminggu selesai. Hari ini aja sudah bisa, hanya kurang sempurna,” jelasnya.

Pihaknya bersyukur dengan kebijakan seragam batik pelajar yang direalisasikan oleh Bupati Probolinggo. Menurutnya, kebijakan itu sangat berdampak pada perekonomian IKM batik lokal.

“Alhamdulillah bisa menambah lapangan kerja baru, IKM batik juga bisa jalan. Ini sangat bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Bisa mengurangi pengangguran,” terang Abrori. (awi/iwy)


Bagikan Artikel