Pendidikan

Warga Probolinggo Tewas di Nabire, Merantau sebagai Tukang Ojek

PAPUA – Seorang tukang ojek asal Kabupaten Probolinggo kembali meregang nyawa di tanah Papua. Setelah sebelumnya Sugeng Efendi tukang ojek yang berasal dari Desa Kramat Agung kecamatan bantaran tewas ditembak KKB di Puncak Jaya awal Februari lalu. Kini Busar (30) tukang ojek asal Desa Tigasan Kulon Kecamatan Leces ditemukan tewas di hutan Nabire, Papua, Sabtu (30/3) malam.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Pantura, Busar ditemukan tewas oleh warga di sekitar di kawasan hutan itu sekitar pukul 19.00 WIT. Saat ditemukan terdapat 7 luka bacokan akibat sejata tajam ditubuh korban.

“Kata temannya di sana dek Busar saat itu sedang bekerja. Perma kali mendapat info kalau Busar meninggal itu dari tetangga sekitar pukul delapan malam,” ungkap Paeng (32), kakak korban, Minggu (31/3).

Mendengar informasi tersebut, Paeng langsung menghubungi kerabatnya yang juga bekerja di Nabire. Via telepon seluler itulah, Paeng benar-benar memastikan kalau adiknya tewas akibat dibunuh seseorang. “Kerabat saya di Nabire semalam bilang kalau dek Busar meninggal karena dibunuh orang saat narik ojek,” katanya.

Mendapati kenyataan tersebut, keluarga besar Busar di Dusun Gonngong Desa Tigasan Kulon langsung berduka. Namun dikarenakan keterbatasan biaya untuk memulangkan jenasah dari Papua, akhirnya pihak keluarga hanya meminta kepada kerabat dan rekan kerja Busar di Nabire untuk mengurus pemakaman jenasahnya.

“Jenazahnya sudah dikebumikan di Nabire tadi siang. Kami tak punya biaya untuk memulangkannya, sehingga kami minta kerabat kami disana untuk mengurus pemakamannya,” kata Paeng.

Dijelaskannya pula awal mula Busar berangkat ke Nabire adalah 6 bulan lalu. Saat itu dia mengeluh sulit mencari pekerjaan di Probolinggo. Oleh karena mendapatkan tawaran dari kerabat dan temannya di Nabire, akhirnya dia berangkat untuk bekerja sebagai tukang ojek di Papua.

“Dia ikut kerabat keluarga disana, katanya narik ojek di sana hasilnya lumayan. Tapi kami sama sekali tak menyangka bakal begini nasibnya,” ungkap Paeng.

Dia pun berharap kepada pihak kepolisian setempat untuk dapat mengungkap kasus pembunuhan adiknya itu. Dan memberikan hukuman yang setimpal kepada para pelakunya.

“Kami mohon kepada bapak polisi di Nabire agar secepatnya menangkap para pelaku. Kami tidak rela dan ikhlas kalau anggota keluarga kami itu dibunuh dengan cara keji seperti itu,” tandasnya. (tm/ra)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan