Pendidikan

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi III dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Probolinggo dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdokpora), Senin (11/2) siang. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Komisi III Soroti Prestasi Atlet

PROBOLINGGO – Komisi III DPRD Kota Probolinggo tidak ingin ada lagi atlet yang gagal dikirim mengikuti kejuaraan di luar daerah, hanya karena alasan tidak memiliki dana. Selain itu, Komisi III yang diketuai Agus Riyanto juga tak ingin prestasi atlet Kota Probolinggo menurun, gara-gara sarana dan prasarana latihan tidak memadai.

Hal itu disampaikan Agus Riyanto saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Probolinggo dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdokpora), Senin (11/2) siang. Sebagai wujud dukungannya, Komisi III siap membantu memperjuangkan dan menambah dana KONI saat Banggar (Pembahasan Banggar).

Sedangkan Ketum KONI Kota Probolinggo Siswadi mengungkap bahwa dana hibah yang diterima dari pemkot tahun ini  sebesar Rp5,5 miliar. Itu berarti ada kenaikan jika dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,5 miliar. Sedang di tahun 2017 dana hibah KONI Rp 4,7 miliar.

Disebutkan Siswadi, dana miliaran rupiah itu telah didistribusikan ke 26 cabor. Cabor penerima dana terbesar adalah PSSI, yakni Rp 900 juta. Disusul PBVSI (boa voli) Rp 280 juta. Penerima hibah terendah adalah cabor POBSI Rp 40 juta, disusul FOPI Rp 50 juta dan dan POSSI Rp 60 juta.

Sedangkan operasional KONI selama 1 tahun dianggarkan Rp 1,8 miliar. Selain itu, dana yang dikelola KONI juga untuk membeli hadiah sejumlah kejuaraan di tingkat cabor. Dana itu juga untuk mengapresiasi atlit yang berprestasi dengan pemberian bonus.

Dalam kesempatan itu, Siswadi yang juga direktur PDAM, memberitahukan kalau induk olahraga yang dipimpinnya belum memiliki kantor. Selama ini, KONI menempati salah satu ruangan di GOR Mastrip, Kedopok. Meski kurang representatif, Siswadi tidak menuntut pemkot untuk segera membangun kantor yang lebih representatif yang lokasinya tidak di dalam GOR. “Barangkali Komisi III bisa mengusulkan ke pemkot. Kami ingin punya kantor diluar GOR,” harapnya.

Selain usul tentang kantornya, Siswadi juga menyebut sejumlah fasilitas olahraga yang kurang memadai. Namun begitu, sarana dan prasarana serta fasilitas yang ada bisa dimaksimalkan oleh cabor. Sehingga dari tahun ke tahun atlet sejumlah cabor berprestasi dikancah lokal, Jatim, Indonesia bahkan sampai ke Asia.

Siswadi juga sempat menceritakan kolam renang di kabupaten Lumajang yang bisa dipakai dalam segala cuaca. Baik dalam kondisi hujan maupun di malam hari. Menurutnya, kolam renang di kabupaten tetangga itu, sarana dan prasarananya lebih lengkap daripada kolam renang Olimpik di dalam GOR Mastrip. “Kolam renang Olimpik kurang memadai. Kalau di Lumajang sudah ada atapnya. Jadi, meski hujan, bisa dipakai,” tandasnya.

Tak hanya itu, Siswadi juga menyebutkan bahwa sarana latihan panjat tebing kurang memadai dan belum berstandart Internasional. Padahal atlet panjat tebing binaannya memboyong medali emas dalam Asian Games tahun lalu. Pihaknya juga menginginkan gedung untuk arena senam dan atletik serta anggar. “Kami juga butuh gudang untuk menyimpan peralatan olah raga,” kata Siswadi.

Sementara itu, Ketua Komisi III Agus Riyanto meminta KONI memiliki semangat baru agar atlet masing-masing cabor prestasinya meningkat. Agus berharap, dana yang diterima KONI dipergunakan seefisien dan seefektif mungkin. Termasuk agar  ketika ada atlet butuh dana untuk mengikuti pertandingan ke luar daerah, tidak sampai gagal berangkat.

“Jangan sampai untuk membiayai atlet yang bertanding ke luar daerah, pengurus cabor urunan. Ini jangan sampai terjadi lagi. Masak atlet enggak jalan karena dana tidak ada,” kata Agus. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan