Pendidikan

Satpol Bekuk Anak Punk

PROBOLINGGO – Sepuluh remaja pengikut aliran punk, Kamis (24/1) pagi diamankan Satpol PP Kota Probolinggo. Mereka diangkut ke markas Satpol PP karena diduga melawan dan memukul takmir masjid di Jl Raden Wijaya, Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan.

Satpol PP Kota Probolinggo mengamankan 10 remaja pengikut aliran punk yang membikin ulah di wilayah kota setempat, kemarin. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Mereka berasal dari Cirebon, Majalengka Jawa Barat, Pasuruan, dan Probolinggo sendiri. Saat di markas Satpol PP, para anak punk tersebut disuruh mandi. Khusus anak punk lelaki  rambutnya dicukur plontos.

Saat di markas Satpol PP, anak punk itu juga diminta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau lagu nasional lainnya. Ada juga yang disuruh menghafal teks pancasila. Namun, para anak punk yang rata-rata putus sekolah saat SMP tersebut tidak ada yang hafal. Alasannya, lupa karena sudah lama tidak sekolah.  

Selanjutnya, usai diberi menu sarapan, para remaja itu diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos) untuk mendapat pembinaan.

Menurut Kepala Dinasa Satpol PP Agus Efendi, 10 anak punk tersebut diamankan karena meresahkan warga. Mereka melawan, bahkan hendak memukul pengurus atau takmir masjid, saat dibangunkan.

Semalaman mereka tidur di teras masjid. Lalu saat subuh, mereka dibangunkan untuk menjalankan shalat subuh. “Tetapi menurut laporan warga, mereka mau memukul takmir saat dibangunkan,” terang Agus Efendi, kemarin (24/1).

Setelah mendengar ada peristiwa itu, petugas Satpol PP meluncur ke lokasi. Tetapi, para anak punk itu sudah lebih dulu kabur. Tetapi, Satpol PP tidak menyerah. Mereka tetap menyisir keberadaan para anak punk tersebut.

Alhasil, ada 10 anak punk yang berhasil dijaring. “Hanya 10 yang berhasil diamankan. Enggak tahu, apakah masih ada yang kabur atau tidak,” ujar Agus Efendi.

Selanjutnya, 10 anak punk itu diserahkan ke Dinsos untuk dibina. “Tindak lanjutnya kami tidak tahu, apa langsung dipulangkan oleh Dinsos atau tidak,” kata Agus. 

Sementara, sebagian anak punk itu saat ditanya wartawan mengaku tidak mengerti mengapa sampai diamankan Satpol PP. “Saya enggak tahu kenapa diangkut ke sini. Enggak, kami nggak bertengkar, apalagi memukul takmir masjid. Kami tidur di depan toko, lalu dibangunkan,” kata salah satu dari mereka.

Sedangkan Riska (19), cewek punk asal Sidoarjo, mengatakan bahwa teman-temannya tidak ada yang bersitegang dengan warga maupun takmir masjid. Ia bersama 9 rekannya tidur di emperan toko karena lelah setelah menempuh perjalanan dari Bali. “Mungkin kelompok lain. Kalau kelompok kami, tidak ada yang bertengkar dengan warga, apalagi melakukan pemukulan. Kami dari Bali, mau pulang,” ujarnya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan