Pendidikan

PTM, Wali Murid Diminta Berperan


 KRAKSAAN – Rencana pembelajaran tatap muka (PTM) di Kabupaten Probolinggo masih terus dikaji. Selain Dinas Pendidikan, Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo juga memberi atensi pada rencana PTM.

Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid – 19 Kabupaten Probolinggo memberikan perhatian terhadap rencana digelarnya Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada September ini. Pasalnya, hingga saat ini kasus Covid-19 masih belum tuntas sepenuhnya.

Juru bicara Satgas Covid-19 dr. Dewi Vironica mengatakan, gelaran PTM KBM harus juga mendapatkan dukungan dari wali murid. Hal ini demi memaksimalkan penerapan protokol kesehatan dari murid yang akan mengikuti PTM KBM.

“Penerapan prokes saat PTM tidak bisa sepenuhnya dipasrahkan kepada pihak sekolah saja, wali murid juga harus ikut andil dalam hal ini,” katanya, Rabu (1/9).

Ia melanjutkan, para wali murid atau orang tua harus selalu mengingatkan anaknya untuk selalu menerapkan prokes saat berada di sekolah. Sebab menurutnya, tidak menutup kemungkinan penularan Covid-19 juga bisa terjadi di lingkungan sekolah.

“Kemungkinan penyebarannya bisa terjadi di mana saja. Makanya, peran semuanya pihak dibutuhkan dalam penerapan prokes di lingkungan sekolah,” terangnya.

Ia pun berharap, demi suksesnya PTM KBM, pihak sekolah, wali murid, dan siswa dapat berkomitmen untuk bersama-sama mencegah kemungkinan penyebaran Covid-19. Sehingga kegiatan PTM KBM bisa kembali normal seperti semula. “Sukses tidaknya PTM ini kan juga tergantung dari komitmen semua pihak dalam memerangi virus ini,” ujar dokter Dewi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Fathur Rosi mengatakan, pihaknya memang merencanakan PTM KBM bisa dimulai pada bulan ini untuk sekolah yang berad di zona hijau dan kuning. Rencananya, kegiatan PTM KBM hanya akan digelar selama 3 jam saban harinya, yaitu pukul 07.00 – 10.00 dengan persentase 50 persen dari jumlah siswa yang ada.

“PTM yang kami rencanakan ini baru uji coba sebelum semua sekolah aktif. Yang diuji coba di antaranya ialah penerapan protokol kesehatannya, penyediakan alat pengukur suhu badan, tempat cuci tangan serta hand sanitizer, dan kapasitas murid masing-masing kelas hanya 50 persen,” terangnya. (ay/iwy)


Bagikan Artikel