Hukum & Kriminal

Lagi, Emak-Emak Adukan Arisan Online


PROBOLINGGO – Belasan emak-emak mendatangi markas Polres Probolinggo Kota, Senin (26/7) siang. Mereka mengadukan perempuan berinisial LM, pengelola sebuah arisan online. Keputusan seperti itu diambil setelah penantiannya tak kunjung berakhir.

LM yang dikabarkan tinggal di Kecamatan Kademangan, hanya janji-janji terus saat ditemui. Tak sabar menunggu janji, emak-emak yang seluruhnya berasal dari Probolinggo tersebut mengadu kepolisi, didampingi pengacara SW Djando Gadohoka.

Sebelum masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisisan Terpadu (SKPT), Djando menjelaskan bahwa permasalahan yang membelit 15-an kliennya. Dikatakan, sebelum kliennya mengadu ke polresta, beberapa diantaranya telah menemui LM, namun tak membuahkan hasil.

Mereka kemudian bersepakat untuk mengadukan dugaan penipuan dan penggelapan tersebut ke polresta. Djando menjelaskan, ada sekitar 15 emak-emak yang menjadi korban,  dengan kerugian sekitar ratusan juta rupiah. “Akhirnya mereka menunjuk kami untuk mendampingi,” katanya.

Pria yang tinggal di Jalan Priksan, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran ini mengaku tidak kali ini saja mendampingi kasus arisan online. Sebelumnya, Djando pernah mendampingi kasus yang sama dan saat ini tengah berjalan. “Beda dengan dua kasus yang kami dampingi,” aku Djando.

Namun begitu, kronologi dan sistemnya hampir sama.  Kliennya yang menjadi korban arisan online dengan owner LM, hingga kini belum terbayar. LM hanya janji-janji terus. “Beberapa klien saya menemui LM, tapi tidak ada kejelasan. Janji-janji terus. Akhirnya kesabarannya hilang,” tandasnya.

Ia berharap, Polresta mengabulkan aduannya, sehingga bisa diproses atau ditindaklanjuti. Meski begitu, pihaknya tidak menutup diri, apabila teradu ada niatan untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. “Pintu kami terbuka. Monggo kalai mau diselesaikan secara damai dan kekeluargaan,” tambahnya.

Sebelum meninggalkan tempat, Djando menyebut, selain 15 orang yang saat ini mengadu, ada lagi sekitaran 200 anggota arisan yang akan mengambil langkah serupa.  Total kerugiannya sekitar Rp 1 miliar. “Tapi mereka belum tanda tangan surat kuasa. Untuk yang pengaduan hari ini, kami berharap hai ini terbit surat laporan,” pungkasnya.

Sementara, Ajeng, salah seorang member arisan online ini berterus terang turut mengadu karena merasa dirugikan oleh LM. Uang yang nyantol di owner hampir Rp 10 juta. Ia ikut sejak Februari dan April. Uang tersebut merupakan uang pembelian arisan Rp 8 juta dan uang ikut arisan Rp 1 juta. “Saya membeli arisan 8 juta. Uang itu nantinya dikembalikan ke saya Rp 9 juta,” ceritanya.

Namun, hingga kini tidak terbayar, padahal janjinya, Maret Ajeng menerima uang pembelian arisan tersebut. Sedangkan yang Rp 1 juta merupakan uang ikut arisan yang dalam satu bulan kembali Rp 1,4 juta.

Ajeng ikut arisan, karena diwajibkan agar uangnya bisa cair. “Uang pembelian arisan dan ikut arisan, sama sama tidak keluar. Jumlahnya itu dah, Rp 10,4 juta sama hasilnya. Kalau uang saya yang masuk kan Rp 9 juta,” jelasnya.

Sedangkan Muhammad Untung selaku kuasa hukum LM menjelaskan, kliennya tidak membayar sebagian uang arisan member karena sudah tidak memiliki dana. Uang pribadinya sudah habis dipakai membayar member arisan yang dapat atau tiba gilirannya. Ini terjadi  karena menurutnya, ada member yang tidak membayar kewajibannya saat jatuh tempo.

Kekurangan bayar itu akhirnya dipenuhi kliennya. Member yang disebutnya nakal tersebut jumlahnya tidak sedikit, sehingga uang pribadi LM habis. Member seperti itu tidak membayar kewajibannya setelah mendapat arisan atau giliran. “Ya, klien kami sebagai owner yang mememenuhi kekurangannya. Siapapun, kalau terus terusan seperti itu, uang pribadinya akan habis. Karena jumlahnya banyak,” tandasnya.

Kepada member nakal yang tidak membayar kewajibannya setelah mendapat arisan, disebutkan sudah disomasi. Mereka sudah ada yang membayar engan cara mencicil ke kliennya. Hasil pembayaran terebut diserahkan ke member yang belum terbayar. “Kita share atau beritahu kok kalau ada member yang kami luasi. Tapi tidak semuanya terakomodir. Kan jumlahnya banyak,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Untung juga mengatakan ketidakmampuan kliennya membayar kewajibannya ke member karena ada penyebab lain. Ada salah seorang member yang merugikan LM  lebih dari Rp 500 juta.

Pihaknya sudah mengirim somasi kepada member yang tidak disebutkan namanya itu, bahkan ia telah dilaporkan ke Polresta. “Klien kami nunggu uang itu untuk membayar kewajibannya ke member,” kata Untung.

Sementara itu, Iptu Siswanto selaku Plt Kabag Humas Polresta mengatakan, laporan sudah diterima piket Satreskrim. Langkah ke depan yang diambil polresta diantaranya, gelar perkara. Jika dalam agenda tersebut ada unsur tindak pidananya, maka akan dilanjutkan penyelidikan dan penyidikan. “Upaya kami selanjutnya segera gelar perkara. Apabila memenuhi unsur akan ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan penyidikan,” katanya singkat. (gus/iwy)


Bagikan Artikel