Hukum & Kriminal

Gelapkan 7 Motor, Pasutri Asal Leces Ditangkap


LECES – Berakhir sudah sepak terjang Roni Achmad (37) dan Nathania Dea Wigati (32), warga Desa Sumberkedawung, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo sebagai pelaku penggelapan sepeda motor. Yakni setelah pasangan suami istri (pasutri) ini ditangkap jajaran Polsek Leces, Jumat (16/7) sore.

Kanit Reskrim Polsek Leces Aipda Eko Apriyanto mengungkapkan, pasutri tersebut berhasil menggelapkan sebanyak 7 unit sepeda motor di wilayah Tapal Kuda Jawa Timur sejak awal 2021. Penangkapan terhadap pasutri ini dilakukan setelah ada laporan dari salah satu korbannya. Pelapor dimaksud adalah Ismail (47), warga Kabupaten Lumajang yang kehilangan sepeda motor akibat dibawa kabur wanita yang baru dikenalnya. Wanita tersebut tak lain adalah Nathania.

“Korban datang melapor ke SPKT Polsek Leces pada Senin (14/7) lalu. Dia mengaku sepeda motor Vario miliknya telah dibawa kabur oleh seorang wanita yang baru dia kenal,” ungkap Aipda Eko, Sabtu (17/7).

Setelah dilakukan proses penyelidikan dan penyidikan, dilakukanlah pencarian. Pada akhirnya, Nathania berhasil ditangkap bersama Roni, suaminya yang juga kompak terlibat dalam kasus penggelapan motor.

“Keduanya kami tangkap saat mereka tengah diatas bus jurusan Probolinggo-Jember. Kami sanggong di depan Polsek Leces dan langsung kami tangkap keduanya saat itu juga,” terang Aipda Eko.

Dari hasil pengembangam kasus, pasutri ini telah mengaku terlibat dalam 7 kasus penggelapan sepeda motor lainnya di 7 lokasi berbeda di wilayah Tapal Kuda. “Empat sepeda motor digelapkan di wilayah Kabupaten Probolinggo, dua motor di wilayah Kabupaten Pasuruan, dan satu motor lagi di wilayah Kabupaten Situbondo,” bebernya.

Modus yang dilakukan oleh pasutri ini nyaris sama. Nathania berpura-pura meminjam kendaraan kepada calon korban. Sedangkan Roni bertugas menjemput dan menjual sepeda motor yang dipinjam istrinya itu kepada penadah.

“Istri ini pinjam sepeda motor untuk menjemput suaminya. Lantas setelah bertemu suaminya sepeda motor langsung dibawa lari untuk dijual kepada penadah,” papar Aipda Eko.

Nathania mengaku bahwa ia dan suamiya menjual setiap sepeda motor kepada penadah dengan harga antara Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta. Uang itu kemudian dipakai oleh keduanya untuk foya-foya. Ia membeli tas, sweater, dan biaya menginap di hotel. “Setelah menjual motor, langsung nginap di hotel 3 hari, biar tidak ketahuan,” terangnya.

Ia mengaku terpaksa melakukan aksinya itu lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. Selain itu juga untuk memenuhi gaya hidup agar terlihat tidak kalah dengan pasangan lainnya. Apalagi sejak pandemi Covid-19 berlangsung, Roni suaminya sudah tidak lagi bekerja. “Hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya singkat.

Akibat perbuatan tersebut, pasutri ini terancam pasal 372-378 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. (tm/eem)


Bagikan Artikel