Hukum & Kriminal

Usai Buka Puasa, Pasutri di Gili Ketapang Dianiaya


PROBOLINGGO – Misbahun Munir (32), seorang warga Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo, melaporkan tetangganya, GH, ke Polres Probolinggo Kota, Minggu (2/5) pukul 22.00. Pasalnya, GH telah menganiaya dirinya seusai buka puasa. 

Tidak hanya Misbahun Munir yang dianiaya. GH juga menganiaya Musyarofah (31), istri Misbahun Munir. Akibatnya, pasangan suami istri yang tinggal di Dusun Krajan, RT 11 – RW 3  Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih tersebut dilarikan ke RSUD dr Moh. Saleh Kota Probolinggo.

Pasutri tersebut mengalami luka bacok. Bahkan Musyarofah sempat dioperasi. Sedangkan Munir mengalami luka bacok di kepala dan tangan lantaran menangkis celurit yang disabetkan pelaku. “Saya sekarang dirawat di ruang RSUD. Kalau istri saya masih dioperasi. Ya, saya dan istri dibacok,” kata Munir saat dikonfirmasi via telepon Senin (3/5).

Pria beranak satu ini mengaku telah melaporkan GH dan dua rekannya yang turut mendatangi rumahnya. Menurutnya, GH sebenarnya adalah keponakan istrinya. GH yang menganiaya dan membacok dirinya. “Enggak tahu kenapa. Saya tidak pernah punya urusan dengan dia. Lha kok saya dianiaya,” tandasnya.

Saat ditanya permasalahannya, Munir hanya bisa mengira-ngira. Menurutnya, GH berbuat seperti itu karena Musyarofah balik ke Munir. Diketahui, keluarga Musyarofah tidak suka kepada Munir pernah mencederai nama baik keluarga. “Saya pernah bermasalah dengan keluarga orang lain,” akunya.

Karena masalah itu, Munir pernah pisah ranjang dengan istrinya. Singkat cerita, Musyarofah kemudian balik ke suaminya dan tinggal atau menempati rumah yang dibangun Munir. Meski tinggal besama suaminya, namun keluarga Musyarofah ada yang tidak suka kepada Munir, termasuk GH.

Munir menceritakan, pada Minggu (2/5) sore, ia menjemput istrinya yang bertamu ke salah satu keluarganya. Kebetulan, di lokasi yang sama ada GH bersama istri dan anaknya. GH menurut Munir mengolok diriya dengan perkataan agak kasar. “Kenapa kok ada di sini? Siapa yang ngundang,” kata  Munir menirukan perkataan GH.

Awalnya, Munir tidak tahu pernyataan tersebut ditujukan kepada siapa, karena sore itu banyak orang. Korban mengetahui pernyataan tersebut ditujukan ke dirinya, setelah Munir hendak pulang bersama istrinya. GH mengucapkan kalimat yang sama. “Saya turun dari sepeda motor dan mendekati dia,” jelasnya.

Tiba-tiba, lanjut Munir, GH menendang dirinya. Tak terima diperlakukan seperti itu, Munir melawan dan terjadilah perkelahian. Hanya, duel tangan kosong tersebut tidak berlanjut  setelah dilerai oleh keluarganya. Munir kemudian pulang ke rumahnya membonceng istrinya.

Ternyata, usai maghrib, GH mendatangi rumah Munir bersama dua lelaki. Munir yang belum berbuka puasa langsung dipukul dan ditendang. Tak puas dengan itu, GH menyabetkan celuritnya bertub-tubi hingga mengenai kepala dan beberapa kali mengenai lengannya. “Yang dua orang memegangi saya,” tambahnya.

Tahu suaminya ditebas, Musyarofah berusaha melerai dan melindungi suaminya. Namun,   Musyarofah juga terkena sabetan celurit keponakannya sendiri. Puas menganiaya, GH bersama rekan lelakinya meninggalkan rumah Munir. “Sudah kami laporkan ke polresta kejadian tersebut,” katanya.

Kades (Kepala Desa) Gili Ketapang Suparyono saat dihubungi via telepon  membenarkan peristiwa pembacokan tersebut. Namun, ia mangatakan, tidak tahu pasti kronologi dan permasalahannya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta AKP Heri Sugiono berjanji akan menjelaskan kasus ini hari ini. “Besok pagi saja ya,” katanya melalui pesan singkat. (gus/iwy)


Bagikan Artikel