Hukum & Kriminal

Berkedok Pesan Roti untuk Bukber di Panti Asuhan, Ternyata Penipuan


PROBOLINGGO – Ada penipuan terhadap pelaku bisnis kuliner yang patut diwaspadai. Terutama bisnis yang melayani transaksi secara online. Modusnya, pelaku memesan barang dan uang yang ditransfer melebihi harga barang yang dipesannya. Salah satu korbannya di Kota Probolinggo adalah Tarie Cake dan Bakery.

Ninuk Sri Lestari, pemilik Tarie Cake dan Bakery, mengaku telah kehilangan uang Rp 500 ribu. Tindak penipuan dengan cara memesan roti tersebut dialami Tari, sapaan Ninuk Sri Lestari, Rabu (14/4). Pada Rabu pagi, ia menerima telepon dari seseorang yang memesan roti dengan nilai Rp 63 ribu. Pembayarannya dilakukan melalui transfer bank.

Tak berapa lama, Tari mendapat kiriman foto melalui WhatsApp bukti transfer dari pemesan. Lantaran sibuk, Tari tidak sempat melihat bukti transfer bank tersebut. Lalu tiba-tiba  Tari dihubungi pemesan yang memberitahukan kalau jumlah uang yang dikirim ternyata lebih.

Setelah dilihat, ternyata benar. Jumlah transfer sampai senilai Rp 563 ribu. Sedangkan barang yang dipesan hanya seharga Rp 63 ribu. Dengan demikian, ada kelebihan uang sebanyak Rp 500 ribu. Tari kemudian diminta mengembalikan kelebihan uang itu. Tetapi pengembaliannya diminta untuk tidak ditransfer, melainkan dititipkan kepada orang yang disuruh mengambil pesanannya.

Beberapa saat kemudian, jasa pengambilan atau pengantar tiba di toko milik Tari  yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan. “Yang ngambil barang mitra Ojol. Ya, saya titipkan uang Rp 500 ribu itu sesuai permintaan pemesan,” ujarnya.

Pemesan meminta kue kering yang dipesannya diantar ke salah satu yayasan panti asuhan di Kota Probolinggo. Pemesan berdalih mengadakan acara buka bersama dengan anak yatim di yayasan panti asuhan tersebut. “Kami tahunya ditipu setelah keesokan harinya ada pesanan lagi dengan modus seperti itu,” jelas Tari.

Kamis (15/4) sekitar pukul 14.00, Tari mendapat pesanan dari seseorang dengan nomor telepon dan rekeningnya berbeda. Tidak sama dengan pemesan pertama. Karena jumlah pesanan dan nilai uang sama dengan pemesan sebelumnya, Tari kemudian mengecek bukti transfer M- Banking-nya. “Lho kok jumlah uangnya sama, Rp 563 ribu. Ya, enggak saya kirim. Ini penipuan,” ungkapnya.

Tari berterus terang belum melaporkan aksi tipu-tipu yang menimpanya. Hanya, ia berpesan dan berharap, siapapun hendaknya tidak menanggapi pemesan barang dengan cara seperti itu. “Cukup kami saja yang kena tipu. Warga yang lain jangan sampai. Pokoknya kalau ada pemesanan seperti itu, jangan dilayani,” katanya.

Sementara, Tomi, salah satu ojek online (Ojol) membenarkan aksi penipuan dengan modus seperti yang diungkap Tari. Bahkan menurut Tomi, tidak hanya Tari yang menjadi korban penipuan seperti itu. “Benar itu. Banyak yang kena tipu. Kami sudah antisipasi agar teman-teman ojol tidak melayani cara pembelian seperti itu,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel