Hukum & Kriminal

Tertipu Arisan Online, Emak-Emak Lapor Polisi


PROBOLINGGO – Puluhan emak-emak yang merasa tertipu arisan online, Rabu (7/4) siang melapor ke Polres Probolinggo Kota. Puluhan perempuan itu melaporkan ES (27), warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo yang merupakan  ketua arisan online tersebut.

Ada sekitar lima puluh perempuan dan satu-dua lelaki yang datang melapor ke polresta. Mereka didampingi pengacaranya, yaitu SW Djando Gadohoka. Para peserta arisan ini memberikan kuasa kepada pengacara Djando sebelum mereka mendatangi markas polresta.

Munawaroh (34), peserta arisan yang ditunjuk menjadi juru bicara, menyebutkan bahwa uang teman-temannya yang disetor ke ES berjumlah sekitar Rp 400 juta. Mereka meminta uang member tersebut dikembalikan. “Enggak tahu ES sekarang ada di mana. Kami sudah berusaha mencari, tetapi tidak ada,” ujarnya.

ES tidak ditemukan di rumah tinggalnya bersama suaminya, maupun di rumah yang pernah ditempatinya sebelumnya. Bahkan suami ES menyatakan tidak tahu di mana keberadaan istrinya.  “Kami sudah beritikad baik untuk menemui ES. Tetapi ES tidak ada. Dan setiap kali kami tanya ke orang terdekatnya, jawabannya tidak tahu. Laporan ini jalan terakhir dah,” ujar Munawaroh.

Gelagat ketidakberesan arisan online ini terendus 2 sampai 3 bulan terakhir. Member yang sehariusnya menerima uang arisan, tidak mendapat bayarannya. Munawaroh dan peserta lainnya tidak tahu mengapa EM belakangan jadi seperti itu. “Arisan ini kan tahun kedua. Yang pertama, enak dan lancar kok. Enggak tahu yang kedua ini kok jadi begini,” katanya heran.

Dijelaskan, arisan yang dikelola ES menggunakan metode nomor urut. Member yang dapat atau menerima arisan, sesuai nomor urut yang diminta peserta. Jumlahnya tidak sama, sesuai dengan jumlah uang yang disetor atau sesuai pembayaran yang telah disepakati sebelumnya. “Yang ngena urutan pertama, ketua. Ya, ES itu,” jelas Munawaroh. 

Besar setoran arisan tergantung kemampuan member. Yang terkecil Rp 3 juta, Rp 15 juta dan yang tertinggi Rp 36 juta. Menurut Munawaroh, member arisan sebenarnya berjumlah 100 orang lebih. Tetapi yang ikut melapor ke polisi baru 50 orang. “Ya, minta keadilan. Uang member dikembalikan,” kata warga Mayangan tersebut.

Sedangkan SW Djando mengatakan, pihaknya melaporkan ES karena diduga telah menggelapkan uang arisan membernya. Jalan tersebut ditempuh karena ES tidak memiliki itikad baik. “Klien saya sudah berusaha menemui dia. Tapi tidak ditemui. Enggak tahu ada di mana,” ujarnya.

Dikatakan, ES dilaporkan dugaan penpuan dan penggelapan uang arisan 50 member yang jumlahnya sekitar Rp 400 juta. Uang sebanyak itu merupakan uang setorang member yang besarannya antara Rp 3 juta sampai Rp 36 juta. “Kasihan klien kami. Mereka mengumpulkan uang dengan susah-payah,” ujarnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota AKP Heri Sugiono menyatakan akan menindaklanjuti laporan warga. “Nanti kalau laporannya sudah kami terima, ya kami tindaklanjuti. Kami selidiki dan dalami,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel