Hukum & Kriminal

Gelapkan Dana KUR Rp 1 Miliar, Karyawan BRI Jadi Tersangka


KRAKSAAN – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo menetapkan Moh. Helmi dan Yusuf Afandi sebagai tersangka kasus penyelewengan uang negara, Selasa (19/1). Keduanya disangka menyelewengkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI Unit Leces sebesar Rp 1.059.202.822.

Moh. Helmi merupakan karyawan tetap BRI yang menjabat sebagai mantri atau pemrakarsa. Sedangkan Yusuf Afandi adalah pemilik showroom mobil bekas di daerah setempat.

Kasus itu bermula sejak tahun 2018 lalu. BRI Unit Leces menyalurkan program KUR pada rakyat yang memiliki usaha dan tengah membutuhkan asupan dana. Namun, tersangka Helmi memalsukan data nasabah yang diajukan.

Para nasabah yang membutuhkan dana itu diajukan bukan untuk menunjang usahanya, melainkan untuk transaksi pembelian mobil bekas melalui showroom milik Yusuf. Ulah kedua pelaku kemudian diketahui oleh pihak bank dan dilaporkan pada tahun 2019 lalu.

Kepala Kejari Kabupaten Probolinggo Adhryansah menyampaikan, dari laporan itu, pihaknya langsung menindaklanjuti dan menyelidiki. Berdasar hasil audit BPKP ditemukan kerugian negara sebesar Rp 1.059.202.822. Kerugian itu akumulasi dari ulah kedua pelaku selama tahun 2018 dan 2019.

Ulah kedua tersangka dinilai sudah di luar batas dan melanggarkan ketentuan dari Kementrian Perekonomian atas penyaluran dana usaha tersebut. Dana yang harusnya digunakan untuk usaha rakyat, justru digunakan sebagai kepentingan yang sifatnya konsumtif.

Terkait modusnya, lanjut dia, setiap nasabah yang mengajukan KUR pada BRI, tidak dilakukan secara benar. Data dan dana KUR yang telah cair justru diselewengkan pada orang lain untuk kepentingan transaksi motor.

Dari bukti yang diterimanya, sudah puluhan nasabah yang menjadi korban dari ulah tersangka itu. Bahkan yang terakhir 5 nasabah juga mengalami nasib serupa. “Seluruhnya diprakarsai oleh mantri Helmi itu,” ungkapnya.

Hingga saat ini kedua tersangka masih belum ditahan. Akan tetapi dalam waktu dekat, pihaknya akan meminta penyidik untuk segera memanggil kedua tersangka agar menjalani proses hukum. “Selanjutnya, jika berkas perkara sudah dinyatakan sempurna atau P21 baru kemudian akan kami limpahkan ke Tipikor Surabaya untuk sidang,” tegas Adhryansah. (yek/iwy)


Bagikan Artikel