Hukum & Kriminal

Markus, Penyedia Ijazah Paket C Palsu Divonis 10 Bulan


KRAKSAAN –  Markus, terdakwa penyedia ijazah Paket C palsu Abdul Kadir, akhirnya mendapatkan vonisnya. Dalam sidang yang digelar Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, Senin (4/1), Markus dijatuhi hukuman kurungan penjara selama 10 bulan dengan denda subsider Rp  50 juta.

Humas Pengadilan Negeri Kraksaan Yudistira menjelaskan, dalam sidang putusan itu, Markus divonis 10 bulan kurungan penjara dengan denda Rp 50 juta dan subsider 1 bulan kurungan. Markus dinilai melanggar Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).

“Terdakwa menyalahi dan merusak sistem pendidikan yang ada. Itu pasal yang kami buktikan,” ungkap Yudistira saat dikonfirmasi usai sidang kemarin.

Ada banyak hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa sehingga hakim memutuskan untuk memvonisnya 10 bulan. Menurut Yudistira, hal yang meringankan ialah terdakwa kooperatif, mengakui kesalahan dan tidak pernah berurusan dengan hukum sebelumnya.

Sedangkan hal yang memberatkan, terdakwa melanggar dan merusak sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Perbuatannya jelas sangat merugikan aturan pendidikan dengan mengeluarkan ijazah Paket C palsu.

“Itu keputusan dari hakim. Terdakwa punya kesempatan waktu untuk menerima atau menolak. Kalau menolak, bisa melakukan banding, terhitung seminggu dari putusan ini,” jelas Yudistira.

Sementara itu, Diki, pengacara terdakwa Markus menyatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan akan menerima atau menolak putusan tersebut. Pihaknya akan mendiskusikan lebih dulu dengan keluarga terdakwa. “Kami pikir-pikir dulu,” ujar Diki.

Namun, secara pribadi ia merasa keputusan tersebut masih terlalu berat untuk kliennya. Sebab, terdakwa Markus dalam rentetan kasus ijazah palsu itu hanya penyedia atau ekor dari lakon utama.

“Tentu itu sangat tidak berbading lurus dengan status terdakwa yang hanya ngikut saja. Sepuluh  bulan itu terlalu berat. Harus dikurangi lagi,” tegas Diki. (yek/iwy)


Bagikan Artikel