Hukum & Kriminal

Tujuh Netizen Penyebar Hoaks Diciduk Polisi


PROBOLINGGO – Viral video jenazah positif Covid-19 asal Desa Alastengah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo yang dikabarkan dicongkel matanya, berbuntut panjang. Sedikitnya tujuh orang netizen diciduk polisi lantaran dinilai turut terlibat dalam penyebaran video hoaks tersebut.

Tujuh netizen tersebut terdiri dari 6 laki-laki dan 1 perempuan. Masing-masing berinisial S (33), MS (28), RH (24), dan SF (24), yang merupakan warga Kecamatan Paiton. Kemudian ada NS (40), warga Kecamatan Kraksaan; dan M (25), warga Kecamatan Pakuniran. Serta M, seorang perempuan berusia 25 tahun, warga Kecamatan Paiton.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Rizki Santoso mengungkapkan, status tujuh netizen tersebut saat iniasih sebagai saksi. Namun tidak menutup kemungkinan statusnya akan berubah menjadi tersangka seiring berjalanannya proses penyelidikan.

“Prioritas kami saat ini yakni memburu aktor utama penyebar video hoaks yang pertama kali memberikan caption atau narasi bahwa jenazah itu dicongkel matanya oleh pihak rumah sakit,” ungkapnya, Sabtu (7/11).

Ia menyatakan, pelaku penyebar hoax bisa terancam Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE. Di dalam pasal itu disebutkan, setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.

AKP Rizki menerangkan, mulai sekarang setiap orang harus berhati-hati dalam menyebarkan pesan berantai lewat perangkat elektronik. Terlebih berita atau video pendek yang tak jelas kejadiannya namun terdapat narasi yang menyesatkan, sehingga memancing keresahan di masyarakat.

“Yang mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong,” tegasnya.

Ia meminta masyarakat jika mendapat pesan berantai berisi hoax baik di medsos maupun pesan pribadi, agar tak sembarang menyebarkannya. “Laporkan saja kepada polisi,” tegasnya.

Sementara itu, berdasarkan pengakuan dari NS (40), salah seorang penyebar video Hoaks mengaku dirinya tak menyangka bahwa video yang disebarkannya melalui grup Whatsapp tersebut berujung pemanggilan dirinya sebagai saksi oleh pihak kepolisian.

“Saya dapat dari teman di grup WA, kemudian saya share ke grup. Saya tidak tahu kalau akhirnya seperti ini. Saya mohon maaf atas ketidak tahuan saya telah menyebar video yang ternyata bohong,” ungkap NS. (tm/eem)


Bagikan Artikel