Hukum & Kriminal

Karena Menipu, Korban Penusukan Bisa Ditetapkan Tersangka


PAKUNIRAN – Abdullah (54) warga Desa Ranon, Kecamatan Pakuniran yang menjadi korban penusukan oleh Nasir (47), warga Desa Sumendi, Kecamatan Tongas, bisa juga ditetapkan menjadi tersangka. Itu karena ulahnya melakukan aksi penipuan pada tersangka.

Hal itu disampaikan oleh Kanitreskrim Polsek Pakuniran Aipda Dadang Priyanto. Menurut dia, meskipun menjadi korban penusukan, namun korban bisa juga menjadi tersangka atas kasus penipuan yang diperbuatnya kepada Nasir, sehingga ia ditusuk.

“Bisa (dijadikan tersangka, red) asalkan dilaporkan ke Polres Lumajang oleh keluarga pelaku atas kasus penipuan. Karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) itu masuk wilayah hukum Lumajang dan nantinya prosesnya bukan di wilayah hukum Probolinggo,” kata Dadang, Rabu (4/11).

Sementara itu, menurut Nasir, dirinya mengaku menusuk korban setelah merasa sakit hati. Sebab, kata dia, uangnya sebesar Rp 15 juta hasil menggadaikan tanah orang tuanya tidak ada kejelasan, pasca dibawa ke salah satu kiai di Kabupaten Lumajang oleh korban.

“Saya kenal sama dia (korban) dari teman. Katanya, dia punya kenalan kiai di Lumajang yang bisa menggandakan uang. Saya percaya, karena dia bilang kalau dia sudah 3 kali sukses menggandakan uang. Jadi saya gadaikan tanah orang tua untuk modal,” cerita Nasir.

Usai menggadaikan tanah orang tuanya, lanjut Nasir, ia bersama korban kemudian pergi ke kiai yang dimaksud. Sesampainya di rumah kiai tersebut, dirinya menyerahkan uang dalam 7 amplop. Masing-masing amplop total berisi Rp 15 juta.

“Kemudian 7 amplop tersebut dikembalikan lagi dengan syarat tidak boleh dibuka selama 3 hari. Karena saya sudah tidak punya apa-apa lagi, belum sampai 3 hari saya coba buka ampolnya, ternyata isinya di atas-bawah uang Rp 100 ribu, di tengah uang Rp 5-10 ribuan,” akunya.

Sejak itu, sambung Nasir, dirinya merasa ditipu sekaligus merasa malu kepada orang tua dan keluarganya. Begitu juga kepada para tetangga yang mengetahuinya. Sehingga ia mencari keberadaan korban dengan maksud meminta solusi serta pertanggungjawaban.

“Setelah bertemu dan saya coba ajak lagi ke Lumajang, dia menolak lalu saya tusuk dengan pisau yang sudah saya bawa dari rumah. Sempat berfikir akan saya bunuh, tapi saya masih ingat ke anak dan keluarga,” tutur Nasir tertunduk lesu.

Seperti diberitakan sebelumnya,  penganiayaan dengan senjata tajam terjadi di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 desa setempat pada Sabtu (24/10) sekitar pukul 11.30. Dari kejadian ini, kepolisian sudah meringkus pelaku pada Minggu (25/10) pagi. (yek/iwy)


Bagikan Artikel