Hukum & Kriminal

Korsleting Blower Picu Kebakaran Pabrik Furniture Wonomerto


WONOMERTO – Kebakaran hebat yang menimpa pabrik PT Jawa Lily Furniture di Wonomerto Kabupaten Probolinggo pada Rabu (30/9) lalu akhirnya terungkap penyebabnya. Berdasar hasil penyelidikan Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim, kebakaran itu disebutkan dipicu korsleting listrik pada kabel emergency stop pada mesin blower nomor 8 di gudang C (finishing).

Hasil penyelidikan Labfor Polda Jatim atas kebakaran yang menewaskan dua pekerja itu Rabu (4/11) dirilis oleh Plh Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota Iptu Joko Murdiyanto. Rilis kasus ini dilakukan di markas Polres Wonomerto.

Menyebut Iptu Joko, berdasarkan hasil penyelidikan dan uji lab oleh tim Labfor Polda Jatim diketahui titik api berasal dari kabel mesin blower nomor 8 yang mengalami korsleting.  “Hubungan arus pendek pada tombol emergency stop di mesin blower nomor 8 itu memicu percikan api yang kemudian menyambar cairan tinner yang mudah terbakar. Sehingga kobaran api merembet dengan cepat dan menghanguskan seisi bangunan gudang finishing itu,” katanya.

Dijelaskan pula bahwa akibat kebakaran yang terjadi dengan cepat itu, dua orang pekerja pabrik yakni Hosriyati warga desa Pohsangit Leres dan Nur Hofifah warga desa Mentor kecamatan Sumberasih terjebak dan menjadi korban dari kebakaran tersebut. “Untuk kasus ini tidak ada yang kami tetapkan sebagai tersangka, karena peristiwa kebakaran tersebut disebabkan murni musibah.  Tidak ada unsur kelalaian yang terjadi di dalamnya,” jelasnya.

Namun demikian, Iptu Joko menyebut bahwa kepada pihak perusahaan tempat kedua korban meninggal diwajibkan untuk memberikan santunan sebagai bentuk pertanggung jawaban. “Pihak perusahaan pun tak keberatan dengan hal itu. Dan santunan yang dimaksud itu pun sudah diserahkan kepada pihak keluarga dari ahli waris,” sebutnya.

Sementara itu, terkait kerugian yang dialami pihak perusahaan, HRD PT Jawa Lily Furniture Sukamto sudah memberi keterangan kepada polisi. Kerugian yang diderita oleh perusahaan furniture ekspor itu mencapai Rp 15-20 miliar. “Kerugian itu meliputi biaya penggantian mesin yang terbakar serta rehab total bangunan gudang yang harus diganti total agar tidak ambruk pasca terbakar,” jelas Iptu Joko.

Sementara itu, Humas PT Jawa Lily Furniture Elvin yang menyatakan, karena kebakaran tersebut, praktis kegiatan produksi mebel di perusahaannya menjadi terganggu. Terlebih kebakaran tersebut terjadi pada gudang paling penting dalam rantai produksi.

“Kebakaran di gudang finishing itu praktis membuat seluruh mesin finishing menjadi rusak dan tidak bisa diperbaiki. Sehingga kami harus menggantinya dengan yang baru. Dan mesin itu tidaklah murah,” sebutnya kemarin.

 Selain harus mengganti mesin finishing bernilai ratusan juta, kata Elvin, perusahaan juga terpaksa harus mengganti seluruh bangunan gudang C dengan bangunan yang baru. Karena konstruksi bangunan pasaka terbakar dikhawatirkan sudah rapuh dan rawan ambruk.

“Kami tentunya tak mau mengambil resiko yang mengancam keselamatan jiwa para pekerja kami. Oleh karenanya pemilik perusahaan memutuskan untuk lebih baik menggantinya dengan bangunan yang baru,” paparnya.

Ditambahkan bahwa untuk sementara waktu kegiatan produksi tetap berjalan seperti biasa. Namun hal itu hanya berlaku selain dari bagian finishing. Dimana para karyawan finishing diputuskan untuk tetap masuk bekerja meski kegiatan finishing ya dialihkan secara manual.

“Kalau kami liburkan sambil menunggu datangnya mesin dan pembangunan gudang baru. Mereka akan menganggur danntak punya penghasilan. Kami menghindari itu, meskipun pada akhirnya hasil produksi kami tidak maksimal seperti biasanya,” ujarnya.

Dijelaskan pula bahwa akibat terganggunya proses produksi pada bagian finishing,  pemenuhan pesanan produk mebel dari klien menjadi anjlok. Pasalnya, hasil produksi dan pesanan tidak imbang. “Pesana yang datang terus masuk, namun kapasitas produksi kami turun hingga 50 persen. Kalau dihitung keseluruhan kerugian yang ditanggung perusahaan bisa mencapai puluhan miliar ditambah omset yang hilang juga didalamnya,” jelasnya.

Kapan perusahaan ini akan kembali normal? Elvin memperkirakan bulan Januari tahun depan. “Januari tahun depan mudah-mudahan sudah normal kembali kegiatan produksinya. Tentunya untuk segi keamanannya dan keselamatan kerjanya akan kami tingkatkan dan perketat lagi agar peristiwa nahas tersebut tidak terulang,” ujarnya. (tm/iwy)


Bagikan Artikel