Hukum & Kriminal

Tukang Pasang Keramik Cabuli Pelajar SMP


PROBOLINGGO – Karena ulah bejatnya, sejak Jumat (2/10) malam lalu pria berinisial M dijebloskan penjara. Tukang pasang keramik itu dijebloskan tahanan Polres Probolinggo Kota karena menyetubuhi R, gadis berusia 15 tahun yang masih tetangganya sendiri.

Perbuatan biadab tersebut diungkap oleh ayah korban, yaitu A, warga Kecamatan Kademangan, Senin (5/10) sekitar pukul 17.30. A yang sering bekerja di proyek, mengaku sore itu baru datang dari polresta bersama anaknya untuk melengkapi berkas.

Ia kemudian menceritakan kronologi kejadian yang menimpa anak gadisnya. Pada Jumat pagi, putri kedua A datang bersama suaminya ke rumah A. Mereka mempertanyakan soal kebenaran informasi bahwa suami dari putri kedua menjalin asmara dengan R. R merupakan putri ketiga A. 

Meski didesak, R yang masih sekolah di kelas 9 di salah satu SMP, tidak mengaku. “Siangnya korban dibawa ke kiai menantu saya. Begitu ketemu kiai, langsung roboh. Ya mungkin putri saya yang ketiga itu merasa punya salah,” katanya.

Usai maghrib, sang menantu menelpon A, memberitahukan kalau korban sudah buka mulut. Korban mengaku tidak pernah menjalin asmara, apalagi berhubungan intim dengan kakak iparnya. Hanya, korban belum mengaku siapa yang pernah menjalin asmara dengan dirinya. “Karena belum ngaku, akhirnya saya bawa ke rumah ketua RT,” ujar A.

Di rumah ketua RT, R baru mengaku lelaki yang pernah mencabulinya adalah M. Maka, malam itu juga, ketua RT setempat memanggil ketua RW dan babinkamtibmas serta babinsa. “Anak saya ngaku berhubungan dengan M sejak 2019. Korban melayani, karena diancam akan dibunuh oleh M kalau menolak,” tandasnya.  

M kemudian dijemput di rumah seseorang yang juga masih tetangga. Ia tengah memasang ubin. Setelah M mengakui perbuatannya, ia kemudian diamankan di mapolresta oleh petugas. “Yang menyebar informasi menantu saya menjalin asmara dengan korban, ya M itu. Enggak tahu, mungkin dia cemburu ke menantu saya,” tambahnya.

Padahal menantu bersama keluarganya tinggal di Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih. Setiap pagi dari Senin hingga Sabtu menantunya ke rumah A mengantar anaknya yang sekolah TK di dekat rumah kakeknya. “Setelah mengantar anaknya, menantu saya langsung pulang dan berangkat kerja,” bebernya.

A berterus terang tidak mengetahui kalau anaknya dicabuli oleh M. Selain pagi hingga petang A tidak ada di rumah, tidak ada tanda-tanda aneh di diri korban. “Di rumah sepi. Istri saya kerja berangkat pagi, pulang sore. Saya kerja berangkat pukul 6.00 dan pulang habis mahgrib. Jadi di rumah kosong, tidak ada orang. Ya, hanya korban,” bebernya.

A berharap, penegak hukum mengusut tuntas kasus yang menimpa anaknya dan pelaku diganjar hukuman setimpal. A menegaskan tidak akan menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan, meski istri pelaku masih sepupu korban. “Lanjut saja, biar kapok. Kekeluargaan ? Ya enggak lah. Harus dihukum seberat-beratnya. Dia yang merusak masa depan anak saya,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel