Hukum & Kriminal

Ingin Jadi Honorer, Bayar Rp 28 Juta, eh Tertipu


PROBOLINGGO – Wagimun, pria yang tinggal di Kelurahan Kebonsari Kulon, Kanigaran Kota Probolinggo, harus berurusan dengan Polres Probolinggo Kota. Sebab, dia dilaporkan Sumantri yang merasa telah ditipu.

            Wagimun dilaporkan karena diduga telah membawa kabur uang Sumantri sebanyak Rp 28 juta. Korban memberikan uang sebanyak itu setelah diiming-imingi diterima menjadi tenaga honorer perawat di salah satu rumah sakit.

Namun kenyataannya, setelah hampir satu tahun, janji manis Wagimun tidak terwujud. Bahkan, kata Sumantri, yang bersangkutan sudah tidak diketahui keberadaannya Agustus lalu. Bahkan nomor seluler yang dikantongi, sudah tidak bisa dihubungi.

Karena kesal, Sumantri melaporkan pria yang dikenalnya melalui rekannya tersebut ke Polres Probolinggo Kota. Senin (7/9), Sumantri datang ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) bersama istri dan anaknya yang masih digendong. “Hand phone-nya sudah saya hubungi, tapi tidak aktif,” katanya.

Bahkan, ketika didatangi di rumah tinggalnya, Wagimun sudah tidak ada. Informasi yang didapat, rumah itu hanya kontrakan yang ditinggali Wagimun. “Ada dimana sekarang (Wagimun, red), kami tidak tahu,” ujar Sumantri.

Sumantri yang tinggal di Desa Sumberbulu, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo, mengaku berkenalan dengan Wagimun via temannya. Dalam perjalanan, Wagimun menawarkan jasa bisa memasukkan tenaga honorer. “Honorer perawat di RSU. Saya kan punya ijazah perawat,” jelas Sumantri.  

Pria yang kini membantu mertuanya menjaga toko tersebut tertarik, meski harus membayar. Awalnya, Sumantri menyerahkan uang Rp 15 juta tunai tanggal 28 Desember 2019 lalu di rumah Wagimun. “Penyerahannya 4 tahap. Pertama, kami serahkan di rumahnya, Kebonsari Kulon. Makanya saya lapor ke Polresta,” tandasnya.

Dua bulan kemudian, yang bersangkutan meminta uang lagi. Karena Wagimun terus-terusan meminta, Sumantri kemudian member Rp 10 juta. Janjinya dua bulan akan dipanggil dan masuk kerja. Karena ditunggu-tunggu tidak ada tindaklanjutnya, ia lalu ke rumah Wagimun. “Dia minta Rp 1 juta dengan alasan segera diterima kerja,” tambahnya.

Seminggu kemudian Sumantri menanyakan kapan masuk kerja, namun diminta menunggu, begitu seterusnya. Lantaran kepingin segera bekerja, Sumantri menyerahkan uang lagi Rp 2 juta. “Karena janjinya bulan 4 atau April dipanggil, ya saya beri. Sampai sekarang tidak ada jawaban. Bahkan, Wagimun menghilang,” katanya.

Sementara, Kasatreskrim AKP Heri Sugiono menyatakan akan menyelidiki kasus dugaan penipuan yang dilaporkan Sumantri. Sumantri melapor berbekal tanda terima atau kwitansi Rp10 juta. “Kami akan telusuri dan selidiki kasus ini. Barang bukti yang diserahkan pelapor hanya Rp 10 juta. Kalau dilihat dari kronologinya, sepertinya ada korban lain. Makanya kami selidiki dulu,” katanya. (gus/iwy)


Bagikan Artikel