Hukum & Kriminal

Cerai, 1.466 Perempuan Menjanda

KRAKSAAN – Sepanjang tahun 2018, Pengadilan Negeri (PA) Kelas 1B Kraksaan memroses 1.504 perkara cerai gugat yang diajukan oleh pihak istri. Dari jumlah itu, sebanyak 1.466 berkas perceraian itu telah dikabulkan hakim. Sementara sisanya ada yang masih diproses, ada pula yang urung dilanjutkan karena pengajuan dicabut.

Pelaksana Tugas (Plt) Panitera Hukum Muda PA Kraksaan Kelas 1B Masyhudi mengatakan, rata-rata pihak pemohon cerai gugat berusia antara 18 hingga 30 tahun. Usia pernikahan mereka antara 1 sampai 5 tahun. “Sebenarnya ada juga yang usia 40 tahun ke atas gugat cerai. Tapi jumlahnya tidak banyak,” ungkapnya.

Yang lebih memprihatinkan, Masyhudi menyebut ada beberapa penggugat cerai yang tengah hamil muda. Bahkan hamil tua. “Jadi, dalam persidangan perutnya sudah buncit. Usia penggugatnya masih sangat muda,” terangnya.

Gugatan cerai diajukan karena banyak latar belakang. Di antaranya faktor ekonomi, kematangan cara pikir atau kedewaaaan kedua pasangan, hingga faktor kesepakatan pra nikah yang tidak ditepati. “Misalnya, pihak suami tidak menepati janji saat menikah untuk ikut (tinggal, red) ke rumah istri,” katanya.

Selain faktor itu, sangat besar kemungkinan gugatan diajukan karena kurangnya pengetahuan kedua pasangan dalam hal pernikahan dini. Terbukti, dari sekian banyak perkara cerai yang diproses, pasutri terkait rata-rata adalah warga di wilayah pedalaman dan pegunungan.

“Dari daerah kota sedikit (yang mengajukan gugatan). Kebanyakan dari warga penggiran kota dan pegunungan,” kata Masyhudi. (yek/eem)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan