Hukum & Kriminal

Gilir Anak di Bawah Umur, Gegara Keseringan Nonton Bokep


PAJARAKAN – HD (20) dan PT (17), dua anak baru gede (ABG) asal Kecamatan Gading, yang menjadi tersangka pemerkosaan anak bawah umur, kini sudah mendekam di balik jeruji.  Keduanya mengaku melakukan pemerkosaan itu karena keseringan nonton film porno atau bokep.

Kanit PPA Satreskrim Polres Probolinggo Iptu Maskur Ansori mengatakan, setelah diperiksa oleh penyidik, kedua pelaku mengaku terdorong untuk berhubungan layaknya pasangan suami istri, lantaran terinspirasi film dewasa. Mereka hampir setiap hari menonton film porno.

“Karena sering nonton film dewasa, kemudian pikiran pelaku terangsang untuk mempraktikkan adegan film dewasa yang ditonton mereka. Lantas hasrat birahi itu kemudian diluapkan saat ada korban,” kata Maskur, Senin (10/8).

Selanjutnya, kedua tersangka yang masih berstatus pelajar aktif itu, sering mengambil kesempatan nonton bokep saat pegang handphone. Terlebih lagi, belajar-mengajar saat ini melalui daring. Tentu, menurutnya, kesempatan untuk membuka laman itu semakin leluasa.

“Sekarang kan banyak belajar melalui handphone. Jadi kesempatan anak untuk pegang hp dan membuka laman yang aneh-aneh sangat besar. Sehingga terjadi hal demikian,” ungkapnya.

Maskur menambahkan, hampir sebagian besar kasus persetubuhan terhadap anak dibawah umur yang terjadi sejak pandemi Covid-19  dilatari dari seringnya nonton film dewasa. Hal ini, menurutnya, karena sistem belajar daring disalahgunakan.

Bahkan, pada tersangka asusila lainnya, dirinya pernah mendapat kesaksian tersangka bahwa pernah melakukan vcs (video call sex) dengan seorang wanita penghibur. Tersangka itu mengenal wanita itu melalui medsos twitter. Tak tanggung-tanggung tersangka sempat membayar tarif perjam vcs tersebut.

“Sekolah daring membuat para orang tua membeli paketan internet untuk memfasilitasi anak-anaknya. Namun melimpahnya kuota banyak disalahgunakan ke hal yang tidak seharusnya ditonton atau dikonsumsi oleh anak dibawah umur,” terangnya.  

Maskur mengimbau, para orang tua lebih aktif dalam mengawasi aktifitas anaknya. Sebab, peran orang tua juga sangat penting dalam membentuk karakter anak. Jika anak dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan. Dampaknya bakal lebih mengerikan.

“Peran orang tua sangat penting, mulai pengawasan terhadap anaknya ketika memegang handphonenya, aktifitas media sosial, atau ketika anaknya keluar dengan orang baru, itu harus ada pantauan ketat,” imbuh mantan Panit II Subdit IV Ditreskrimsus Polda Jatim itu. (yek/iwy)


Bagikan Artikel