Hukum & Kriminal

Kisah Nenek Surati, Numpang Hidup, Diusir hingga Digugat Anak Kandung


KRAKSAAN – Hidup Surati terlihat sangat berat di usia senjanya. Nenek 70 tahun warga Desa Ranuagung Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo itu dituding maling, diusir dari rumah, bahkan dilaporkan ke polisi. Belum cukup dengan perlakuan itu, kini Surati digugat sengketa tanah oleh anak kandungnya sendiri, Neise.

Kemarin, Surati harus susah payah datang ke Pengadilan Negeri Kraksaan untuk menghadiri persidangan. Ia digugat oleh Neise yang menuntut kepemilikan tanah di atas berdirinya rumah yang kini ditinggali Surati.

Tanah itu dulu milik Sitrap, ibu Surati. Menurut Neise, Sitrap sudah menghibahkan tanah itu kepadanya. Tetapi selama ini tanah tersebut masih dikuasai Surati. Surati merasa tidak tahu status hibah itu. Yang ia tahu hanya tanah itu milik ibunya.

Neise yang merasa memiliki hak kepemilikan atas tanah itu kemudian mengajukan gugatan pada Juli lalu. Dan kemarin kasus ini mulai disidangkan. Surati menghadiri persidangan kemarin dengan ditemani oleh anak dan suaminya.

Kepada wartawan, Surati menceritakan bagaimana ia sampai digugat anak kandungnya sendiri. Ibu dari 5 anak ini bercerita, sebelum dirinya digugat oleh anak kandungnya, ia sudah sering diperlakukan kurang mengenakkan. Beberapa tahun lalu, ketika dirinya masih tinggal serumah dengan anaknya, ia disuruh angkat kaki.

Namun, Surati dan suami keduanya, Asin, tak lagi memiliki harta apapun untuk kelangsungan hidupnya. Kemudian, pasangan suami istri (pasutri) itu memutuskan untuk tinggal bersama anak ketiganya, Manis. Namun dirinya merasa tak nyaman. Sebab rumahnya kecil dan serba kekurangan.

Karena itu, Surati memutuskan untuk membangun rumah reot yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Rumah berukuran 4×5 meter itu dibangun di atas tanah yang disebut milik Neise. “Abangun bungkoh dibik kuleh nak (bangun rumah sendiri saya nak, red),” katanya.

Karena tak memiliki apapun, sementara hutangnya makin hari terus bertambah, Surati menjual pohon sengon yang ditanam oleh ibunya, Sitrap, sebesar Rp 1,8 juta. Tetapi, tindakan itu membuat Surati dituding maling oleh anak kandungnya, Neise.

Bahkan, Surati dilaporkan ke polisi karena menjual beberapa batang pohon sengon tersebut. Di hadapan penyidik kepolisian, Surati mengaku, uang itu untuk membeli beras. “Gun ekabellih berres nak. Genei nyambung odik ben areh (untuk beli beras nak. Buat kebutuhan sehari-hari, red),” tutur Surati.

Tak lama usai dilaporkan ke pihak kepolisian, Surati kembali berhadapan dengan hukum. Ia digugat anak kandungnya sendiri atas kepemilikan tanah yang dibangun rumah untuk tempat tinggal dirinya selama ini. Padahal menurut Surati, tanah itu milik ibu kandungnya, Sitrap.

Duh tak oneng kuleh pon nak. Sangasaen ngandung gruah sangang bulen neng tabuk. Mek gebei seksaan ke abak dibik (duh saya tak tahu lagi nak. Percuma saya mengandung dia selama sembilan bulan di perut. Menjadi penyakit untuk keluarga, red),” tuturnya di sela tangisnya.

Sementara itu, Manis, anak ketiga Surati menyampaikan bahwa ibu kandungnya itu sering diusir oleh Neise. Bahkan saat ini Surati digugat hanya karena tanah. Sebelumnya juga pernah dituduh mencuri. “Kalau diusir, sering kali. Cuma ibu nggak mau. Tetep tinggal di sana,” ungkap Manis. (yek/iwy)


Bagikan Artikel