Hukum & Kriminal

Tuntut Hak Tanah, Anak di Probolinggo Gugat Ibu Kandung


KRAKSAAN – Hubungan anak dan ibu kandung seperti sudah tidak ada efeknya bagi Neise (44), warga Dusun Tancak, Desa Ranuagung Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Ia tega menggugat ibu dan saudara kandungnya, demi menuntut hak atas tanah yang dihibahka.

Gugatan itu diajukan pada Kamis (23/7) lalu. Dan kemarin (5/8) kasus tersebut  disidangkan di Pengadilan Negeri (PN).

Gugatan Neise diarahkan pada empat orang; yaitu Surati (70), sebagai ibu kandungnya; Manis dan Sinal, saudara kandung; serta Satima, saudara sepupu. Keempat orang itu digugat oleh Neise lantaran disinyalir menguasai tanah yang disebut menjadi hak miliknya.

Melalui pengacaranya, Taufiq, Neise menyatakan bahwa intinya hanya ingin mengambil kembali hak-haknya atas kepemilikan tanah hibah yang jadi obyek sengketa ini. Tanah itu luasnya 3.874 meter persegi, dan telah bersertifikat pada 19 Mei 2015.

Riwayatnya, tanah itu milik Sitrap, nenek Naise. Semasa masih hidup, Sitrap sudah menghibahkan tanah itu kepada Naise. Tetapi selama ini tanah tersebut masih dikuasai oleh keluarga Neise, terutama ibu kandungnya.

“Yang tergugat itu menempati dan menguasai tanah yang menjadi milik Bu Neise ini. Kami hanya menuntut untuk mengembalikannya, karena itu sudah sah milik Neise,” kata Taufiq, saat ditemui di Pengadilan Negeri Kraksaan, kemarin.

Sementara Dayat, putra Neise, menambahkan bahwa dirinya tidak mau banyak bicara soal gugatan itu. Intinya, pihaknya ingin mengambil kembali harta yang sudah menjadi miliknya. “Lihat aja nanti, siapa yang menang,” katanya dengan nada sinis.

Sedangkan Surati, mengaku tidak tahu status kepemilikan tanah tersebut. Tanah yang digugat oleh anaknya itu didapat oleh ibu kandungnya (Sitrap). Surati saat ini hanya ingin menumpang hidup bersama suaminya.

Kuleh tak endi pa’apah nak. Gun terro ngampongah odik ke anak dibik. Keng kuleh eyoser. Teros kuleh guduh odik ekammah. (Saya sudah tidak punya harta apapun. Hanya ingin numpang hidup ke anak sendiri. Tapi diusir. Lantas saya harus tinggal dimana, red),” ujar Surati dengan derai air mata.

Surati pun tak terima jika dirinya digugat atas kepemilikan tanah tersebut. Sebab, tanah itu milik ibu kandungnya sendiri. Harusnya tanah itu dihibahkan pada dirinya. Namun tanah tersebut sudah tiba-tiba disertifikat tanpa sepengetahuan dirinya.

Kuleh tak oneng. Romoro pon sertifikat pah kuleh eyosir soro ngalle. Ghi kuleh tak gellem. Tedungah kammah pole kuleh. Tedungan bik anak, todus. (Saya tidak tahu. Tiba-tiba sudah disertifikat. Lalu saya diusir. Saya tidak mau. Mau tidur dimana lagi nanti. Tidur di rumah anak sendiri, malu, red),” tutur Surati di sela tangisnya.

Sidang perdana kasus gugatan sengketa tanah oleh Neise digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, Rabu (5/8) siang. Di awal sidang, majelis hakim lebih dulu mengarahkan kedua pihak untuk mediasi. Namun mediasi itu gagal, sehingga harus dilanjutkan dengan persidangan.

Sidang perdana kasus gugatan tersebut dimulai pukul 14.00. Sidang dipimpin ketua majelis hakim Syafruddin.  “Karena ini sengketa tanah keluarga, kami minta kedua belah pihak untuk mediasi terlebih dahulu,” kata hakim Syafruddin.

Kemudian, sidang ditutup dan dilanjutkan dengan agenda mediasi. Proses mediasi   dipimpin oleh mediator Yudistira. Namun, upaya mediasi itu tidak membuahkan hasil. Kedua belah pihak bersikukuh dengan  argumennya. Tidak ada yang mengalah.

“Karena kedua belah pihak masih bersikeras, mediasi gagal. Terpaksa harus dilanjutkan pada sidang pembacaan dakwaan pada minggu depan,” kata Yudistira saat dikonfirmasi usai mediasi.

Samsul Huda selaku kuasa hukum tergugat, menyampaikan bahwa mediasi tidak berjalan lancar. Pihak penggugat tetap menuntut ibu kandungnya, Surati, angkat kaki dari rumahnya. Sedangkan pihak ibu kandung tetap ingin tinggal di rumah itu. “Jadi mediasi gagal, lanjut sidang,” ungkapnya.

Dari pihak penggugat, Dayat putra Neise mengatakan bahwa dirinya tetap menuntut atas tanah hibah yang sudah menjadi milik ibunya. “Lihat saja nanti siapa yang bakal menang,” ujar cucu tergugat itu dengan nada menantang. (yek/iwy)


Bagikan Artikel