Hukum & Kriminal

Polsek Dringu Didemo, Warga Tuding Polisi Salah Tangkap


DRINGU –  Puluhan warga melakukan aksi demonstrasi di depan markas Polsek Dringu, Kabupaten Probolinggo, Kamis (23/7) pagi. Mereka menuntut agar Zainal (45), warga Desa Sumbersuko, Kecamatan Dringu, dibebaskan karena proses penangkapannya dinilai cacat hukum.

Suliani (35), istri Zainal, didampingi puluhan pengunjuk rasa, mengatakan bahwa suaminya tidak bersalah. Sebab, Zainal ditahan tanpa ada barang bukti yang kuat. Selain itu, Suliani meyakini bahwa tuduhan polisi kalau suaminya terlibat tindak pidana pencurian jaring bawang adalah tidak benar.

“Tiba-tiba suami saya ditangkap oleh polisi. Saat ditanya mana barang buktinya, mereka bilang sudah ada di polsek. Itu tidak masuk akal. Bisa saja orang lain yang melakukan itu. Tetapi kenapa suami saya yang dituduh mencuri,” kata Suliani kemarin.

Karena itu, Suliani menuntut agar Kapolsek Dringu dan anggota reskrim yang melakukan penangkapan terhadap Zainal, dipecat dan dihukum. Sebab menurutnya, mereka telah salah tangkap. “Jangan mentang-mentang jadi polisi, bisa seenaknya main tangkap orang yang tidak bersalah. Suami saya buktinya, yang kini jadi korban,” tegas Suliani.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Dringu Iptu Taufiq NH menyatakan, kasus ini berawal dari adanya laporan warga yang mengaku kehilangan jaring bawang sekitar dua bulan lalu. Sejak itu, pihaknya terus melakukan penyelidikan hingga didapati petunjuk bahwa tersangka Zainal adalah pelakunya.

“Setelah itu, Unit Reskrim menindaklanjutinya. Hasilnya mengerucut bahwa pelakunya Zainal. Hasil pemeriksaan sementara, pelaku telah melakukan pencurian di dua lokasi, yakni di Desa Sumbersuko dan Desa Tamansari,” jelasnya.

Menurut Kapolsek, sebenarnya beberapa hari sebelum aksi demo, pihak keluarga telah mendatangi polsek dan meminta penangguhan penahanan tersangka Zainal. Namun, permohonan penangguhan itu tidak dikabulkan. Sebab, sejumlah alat bukti yang didapat sudah memenuhi syarat untuk melakukan penahanan terhadap tersangka.

“Penahanan yang kami lakukan sudah sesuai dengan KUHAP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana.red). Terlebih, surat penangkapannya juga telah kami sampaikan kepada pihak keluarga. Sehingga tidak ada mekanisme penahanan yang kami langgar,” paparnya.

Terkait aksi demo puluhan warga di depan markasnya, Iptu Taufiq menyebut bahwa hal tersebut sebenarnya sudah coba untuk diredam. Namun pendemo yang terdiri atas pihak keluarga  tersangka dan sejumlah warga lainnya tidak bisa diajak kompromi.

Alhasil, upaya preventif pun dilakukan dengan meningkatkan penjagaan dan memindahkan tersangka ke sel tahanan di tempat lain yang tak bisa disebutkan. “Bapak Kapolres sudah mengetahui permasalahan dan kasus ini. Menurut beliau proses hukum harus terus dilanjutkan. Perkara bersalah atau tidaknya, nanti agar diputuskan di pengadilan,” kata Kapolsek.  (tm/iwy)


Bagikan Artikel