Hukum & Kriminal

Buntut Meninggalnya Terduga Curwan, Kapolsek Tongas Dinonaktifkan


PROBOLINGGO – Polres Probolinggo Kota memutusukan menonaktifkan Kapolsek Tongas berikut seorang anggota Unit Reskrim Polsek setempat. Hal itu dilakukan sebagai buntut kasus meninggal dunianya Muhammad Nuryakin (40), seorang terduga pelaku pencurian hewan sapi di Mapolsek setempat, Selasa (14/7) sekitar pukul 18.00.

Peristiwa tersebut membuat keluarga terduga tidak terima. Mereka kemudian melaporkan Kapolsek Tongas ke Propam Polda Jatim pada Rabu (15/7) pagi.

Hal tersebut disampaikan oleh Kapolresta AKBP Ambariyadi Wijaya, Rabu (15/7) siang di Mapolsek Tongas. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk mempermudah proses hukum. Pengganti anggota Polri yang itu dinonaktifkan adalah seorang perwira yang saat ini bertugas di Mapolresta. Namun Kapolresta tidak menyebut nama perwira dimaksud.

“Untuk tugas-tugas Unit Reskrim akan ditangani Satreskrim Polresta. Pelayanan kepada masyarakat harus tetap diutamakan dan harus berjalan. Anggota kami yang dilaporkan tentu akan bolak-balik ke Polda. Akhirnya pelayanan ke masyarakat terganggu,” ujarnya ke sejumlah wartawan.

AKBP Ambariyadi mengaku belum mengetahui apakah terduga pelaku aksi pencurian sapi itu dianiaya oleh 6 oknum petugas polsek atau tidak. Kapolresta juga menyatakan belum tahu apakah Muhammad Nuryakin merupakan pelaku atau bukan. Ia mengungkapkan, saat ini kasus tersebut tengah ditangani Propam Polda Jatim. “Kasus ini dilaporkan ke Polda oleh pihak keluarga. Kita ikuti saja proses hukumnya,” katanya.

Kapolresta mengungkapkan, Mapolsek Tongas sempat didatangi keluarga terduga pelaku dan beberapa warga Dusun Pilang Kacer, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, Selasa malam. Yakni setelah mereka mendengar kabar bahwa Muhammad Nuryakin meninggal dunia di Mapolsek Tongas.

“Selanjutnya, kami bertugas menjaga situasi Kamtibmas di Polsek Tongas agar situasi kondusif dan terkendali. Karena kasus ini sudah ditangani Polda,” terang Kapolresta.

Di sisi lain, hingga Rabu siang, jasad Muhamad Nuryakin masih disemayamkan di kamar mayat RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo. Dari informasi yang didapat dari petugas kamar mayat, jasad masih tersimpan di lemari pendingin. Mereka tidak tahu kapan jasad korban akan dibawa ke rumah duka. Sementara kapolreta menyebut, menunggu kepastian dari piha keluarga, apakah diotopsi atau tidak. “Masih belum ada kepastian dari pihak keluarga. Kita tunggu saja,” pungkas kapolresta. 

Terpisah, Riyanto Kepala Desa Tanjungrejo mengaku mendengar kabar kalau kasus meninggalnya Muhammad Nuryakin bakal dilaporkan ke Polda. Namun ia mengaku belum tahu perkembangannya, apakah jadi dilaporkan atau tidak.

“Pihak keluarga tadi malam ngomong mau lapor ke Polda. Sudah dilaporkan atau belum, saya tidak tahu. Wajarlah warga kami mau lapor. Karena mereka tidak tahu sebab penyebab korban diamankan,” ujarnya via ponsel, Rabu sore.

Ditanya apakah benar bahwa Muhammad Nuryakin adalah pelaku pencurian sapi? Kades dengan tegas menjawab tidak tahu. Sebab, yang bersangkutan sudah lama tidak tinggal di desanya, melainkan berdomisili di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas. Namun yang bersangkutan belum mengurus kepindahannya.

“Ikut  istrinya ke desa sebelah. Tapi KTP-nya masih Desa Tanjungrejo. Belum ngurus surat pindah. Saya tahunya dari pamong. Tapi kalau keluarga korban tinggal di desa kami,” katanya.

Riyanto juga tidak tahu apa aktivitas keseharian Muhammad Nuryakin. Bahkan soal penangkapan yang bersangkutan, ia juga tidak tahu. Ia baru mengetahuinya pada Rabu sekitar pukul 14.30. Begitu mendapat kabar tersebut, Riyanto meluncur ke Mapolsek Tongas.

“Ternyata di Mapolsek tidak ada. Infonya korban dibawa ke arah timur, enggak tahu dibawa ke mana. Lama kelamaan saya dapat informasi kalau yang bersangkutan sudah meninggal,” katanya.

Zainal, tetangga dekat Muhammad Nuryakin mengatakan, pihak keluarga belum mengetahui penyebab kerabatnya itu ditangkap polisi. Sepengetahuannya, yang bersangkutan ditangkap ketika sedang menebang tebu di Desa Wotgalih, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, Selasa (14/7) pukul 11.00. “Keluarga belum tahu, kenapa korban diamankan saat bekerja nebang tebu,” katanya.

Rencananya, keluarga Nuryakin akan melapor ke Polda. Namun Zainal tidak tahu kepastiannya. Yang jelas keluarga korban meminta, 6 oknum polisi yang mengamankan korban tersebut ditindak tegas. “Permintaan pihak keluarga seperti itu. Saya tahu karena saya tetangga dekat. Ya pasti dengar lah,” terangnya. (gus/eem)


Bagikan Artikel