Hukum & Kriminal

Bebas lalu Berulah, Residivis Diancam Hukuman Ganda


KRAKSAAN – Sebanyak 134 warga binaan (WB) Rutan Kelas II B Kraksaaan yang dapat asimilasi atau dibebaskan lebih awal lantaran wabah corona, jangan sampai berulah. Mereka tetap dipantau ketat selama bebas. Jika sampai ditemukan berulah, mereka terancam hukuman ganda.

Kepala Rutan Kraksaan Muhammad Kafi mengatakan, ratusan napi yang dibebaskan itu bukan berarti dilepas begitu saja. Pihak terkait tetap mengawasi napi yang dibebaskan berkat merebaknya Covid-19 itu.

“Yang bebas akan diawasi oleh semua elemen. Mulai dari kepolisian, kejaksaan, serta pemda setempat. Semuanya itu dapat tembusan. Mereka juga ikut mengawasi. Terutama pihak kepolisian. Mereka kami kasih data lengkap, titiknya di mana saja beserta alamatnya,” kata Kafi, Rabu (15/4).

Selain dari luar rutan, menurut Kafi, pengawasan juga ada dari Balai Permasyarakatan (Bapas). Sehingga, ketika warga binaan melakukan tindakan kriminal, akan langsung diamankan. Selain itu, lanjut Kafi, pihaknya memegang nomor dari orang terdekat.

“Tujuannya, nomor itu diberikan untuk memantau warga binaan. Jika berbuat kriminal ketika telah diasimilasi, maka mereka akan ditangkap dan akan mendapatkan hukuman lebih berat,” jelas Kafi.

Bagi warga binaan yang kedapatan melakukan kejahatan kembali, sambung Kafi, nantinya akan mendapat hukuman ganda dari sisa hukuman ditambah perbuatan criminal, juga sanksi disiplin. Alhasil,  hukumannya menjadi jauh lebih berat.

“Disiplin itu artinya mereka dirumahkan untuk menjalani sisa hukuman yang dijalani di rumah. Mereka tidak boleh keluar rumah. Tetapi, apabila melakukan tindakan kriminal kembali, maka sanksi ganda diberikan,” tutur pria asal Pamekasan ini.

Diketahui, Rutan Kelas 2B, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo membebaskan ratusan narapidana (napi). Total, ada 134 napi yang dibebaskan, melebihi target awal yakni 125 orang napi. Pembebasan secara bertahap ini dimulai Jumat (1/4) hingga Selasa (7/4) lalu. (yek/iwy)


Bagikan Artikel