Hukum & Kriminal

Hendak Isap Sabu-Sabu, eh Dibekuk Polisi


PROBOLINGGO – Siti Ambar Wulandari (29), pengguna sekaligus pengedar sabu-sabu (SS), diamankan Polres Probolinggo Kota. Perempuan warga Jl Kyai Mugi, Kelurahan Mangunharjo,  Kecamatan Mayangan itu dibekuk karena menjual SS.

Tersangka Siti Ambar bekerja di salah satu perusahaan penyulingan kayu gaharu. Kasus  ini dirilis Senin (30/2) siang di markas Polres Probolinggo Kota. Siti Ambar, ditangkap di rumahnya usai menjual SS, Sabtu (28/3) petang.

Petugas yang sudah mengintai, menyergap Siti saat hendak menghisap SS di salah satu kamarnya. Tersangka tak berkutik dan langsung digelandang ke mapolresta. “Ditangkap saat hendak membakar sabunya untuk dihisap,” kata Wakapolresta Kompol Teguh Santoso dalam rilis kemarin.  

Ditambahkan, Siti sebelumnya sudah pernah berurusan dengan Polres Lumajang. Ia diamankan Polres Lumajang dan dipenjara di Lapas Lumajang, juga karena mengonsumsi SS. Ternyata, selepas dari penjara, Siti tidak kapok. “Awalnya tersangka ini pengguna. Tetapi setelah keluar dari penjara, malah mengedarkan,” tambah Kompol Teguh.

Karena perbuatannya ini, Siti dijerat pasal 114 ayat 1 UU RI 35 / 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya penjara seumur hidup atau pidana penjara minimal 5 tahun dan maksimal 20 tahun, atau denda minimal Rp 1 miliar, maksimal Rp 10 miliar. “Tersangka juga dijerat pasal 112 ayat 1 undang-undang yang sama. Ancaman hukumannya paling sedikit 4 tahun, paling lama 12 tahun, atau denda paling sedikit Rp 800 juta, paling banyak Rp 8 miliar,” katanya.

Dari tersangka Siti, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, yaitu 2 plastik klip berisi SS 0,46 gram dan 0,06 gram. Barang bukti berikutnya berupa sebuah handphone, empat plastik klip kecil dan 2 sedotan.

Saat ditanya Wakapolresta, Siti menangis sesenggukan. Ia mengaku kapok dan tidak akan menjual SS lagi. “Kami jual sabu untuk biaya hidup dan sekolah anak pak. Saya pakai sabu, agar stamina kuat saat kerja di penyulingan kayu gaharu,” kata Siti.

Selain itu, dalam rilis kemarin polresta juga membeber kasus peredaran pil trex dan dextro. Ada dua orang tersangka pengedar yang berhasil dibekuk, yaitu Bahrul Basofi Prasetyo (24) dan Risfan Farit (25). Keduanya sama-sama warga Desa Wates Wetan, Kecamatan Ranuyoso, Kabupaten Lumajang.

Kedua pemuda itu ditangkap di depan pos lantas Bundaran Gladak Serang (Glaser), Sabtu (28/3) sore. Saat itu, kedua tersangka bertransaksi dengan pembelinya. “Ya, mereka bertransaksi di depan petugas. Mungkin tersangka enggak tahu kalau di dekatnya ada petugas,” ujar Wakapolresta Kompol Teguh Santoso.

Selanjutnya, tersasangka dijerat pasal 196 ayat 1 UU 36 / 2009 tentang Kesehatan. Ancaman hukumannya paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. Mereka juga dijerat pasal 197 ayat 1 undang-undang yang sama dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun atau denda maksimal Rp1,5 miliar.

Adapun barang bukti yang diamankan dari Bahrul Basofi Prasetyo meliputi 100 butir pil trihexipenidyl atau trex, 32 butir pil dextro, satu handphone, uang Rp 150 ribu dan satu unit sepeda motor matik  nopol N 3466 YAA.

Sedangkan dari Risfan Farit disita barang bukti berupa 100 butir pil trihexipenidyl, satu handphone dan satu unit sepeda motor nopol D 5098 BS. (gus/iwy)


Bagikan Artikel