Hukum & Kriminal

Gegara Cek Tidak Bisa Dicairkan, Kades Dringu Dilaporkan Polresta


PROBOLINGGO – Kepala Desa Dringu, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, Bukhari dililit masalah. Selasa (11/2) sekitar pukul 15.00, seorang warga Kelurahan Kanigaran Kota Probolinggo bernama Prasetyo telah melaporkan Kades Bukhari ke Polres Probolinggo Kota. Prasetyo melaporkan kasus cek dari Kades Bukhari yang tidak bisa dicairkan.

Kepada wartawan setelah melapor di SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) kemarin, Prasetyo menyebut Bukhari tidak ada niatan baik. Ponselnya tidak bisa dihubungi.  Prasetyo bahkan merasa nomor ponselnya sampai diblokir oleh Bukhari.

Lalu menurut Prasetyo, lahan pekarangan warisan dari neneknya dibeli Bukhari. Sebagai bukti keseriusannya, pembeli menyerahkan tanda jadi Rp 150 juta. Kekurangannya akan dibayar belakangan.

September 2019 lalu,  Bukhari menyerahkan cek senilai Rp 100 juta di Hotel Bromo Park lantai 2. Kala itu yang hadir adalah tiga ahli waris, yakni Praseto, Selly yang merupakan sepupu dan Muji Rahayu yang masih berstatus tantenya. “Hari itu juga saya cek ke bank. Petugas bank bilang, uangnya bisa dicairkan,” ujar Prasetyo.

Beberapa hari kemudian, yakni 30 September 2019, Prasetyo kroscek lagi cek yang dipegangnya ke bank yang sama. Lagi-lagi, petugas bank mengatakan uang bisa dicairkan. Meski sudah 2 kali menanyakan, namun uang tersebut belum dicairkan. “Pas saat masa berlaku cek akan berakhir, saya cairkan uang itu. Tetapi tidak bisa. Kata petugas, uangnya sudah tidak ada,” jelasnya.

Prasetyo kemudian berusaha menanyakan kepada Bukhari soal uang Rp 100 juta itu, dan kapan sisa kekurangannya akan dibayar. Namun, setelah berkali-kali dihubungi, ponsel Bukhari  tidak aktif. Lantaran hingga Februari tidak ada kejelasan kabar beritanya, Prasetyo lalu melapor ke polresta. “Biar diselesaikan di Polresta. Kalau tidak melapor, nggak akan selesai urusan ini,” tandasnya.

Ditambahkan, pembeli hanya membayar dengan uang kontan Rp 150 juta dan uang pembayaran pertama itu dibagi kepada tiga ahli waris. Dengan demikian, Bukhari kurang bayar sebesar Rp 270 juta. “Sekarang tanah yang di Jalan Sultan Agung, kelurahan Kanigaran itu sudah ada bangunannya. Padahal, belum lunas,” tambahnya.

Sementara, Kades Bukhari saat dikonfirmasi wartawan via telepon, menyatakan bakal balik melaporkan Prasetiyo dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Hal itu dilakukan, karena dirinya tidak mengenal dan tidak tahu dengan pelapor. “Prasetyo itu siapa. Saya tidak tahu dan tidak ada urusan dengan dia. Saya akan lapor balik,”  ujarnya.

Bukhari menegaskan, tanah pekarangan yang kini sudah dibangunan rumah tersebut membeli ke Selly, bukan ke orang lain, karena sertifikatnya atas nama Selly. Terkait cek yang dipegang Prasetyo, Kades Bukhari mengaku tidak tahu-menahu.

Lalu saat ditanya kapan akan melapor, Bukhari menjawab masih akan menunggu pemberitaannya. “Kami menunggu beritanya dulu,” katanya.  (gus/iwy)


Bagikan Artikel