Hukum & Kriminal

Keluarga Abdul Kadir Surati Presiden


BESUK – Keluarga Abdul Kadir berupaya menuntut keadilan. Mereka merasa Abdul Kadir yang terlilit kasus ijazah palsu tidak mendapat perlakuan adil. Karena itu, pihak keluarga berencana menyurati sejumlah pihak, termasuk Presiden RI Ir. H Joko Widodo.

Hal itu secara tegas disampaikan ayah dari terdakwa Abdul Kadir, Hairi. Ia mengaku  sangat kecewa dengan kinerja pihak kepolisian khususnya Polres Probolinggo. Terutama karena polres tidak kunjung menetapkan tersangka baru dalam kasus pembuatan dan penyediaan ijazah palsu yang menjerat anaknya.

“Dulu awal-awal polisi bilang kalau kasus anak saya sudah P-21, mereka akan segera menetapkan tersangka baru. Tetapi apa? Setelah anak saya 4 kali ikut sidang, bayangkan itu, tidak kunjung ada itu namanya tersangka baru yang mereka sebut. Ada apa ini?” ungkap Hairi, Senin (6/1).

Karena lambannya penanganan kasus jaringan pembuatan ijasah palsu itu, Hairi mendesak kepada kuasa hukum anaknya, yakni Hosnan Taufik, untuk segera membuat surat yang isinya menuntut keadilan. Tak main-main, surat itu akan dikirim ke Kapolres, Kapolda Jatim, Kapolri, bahkan Presiden Joko Widodo. 

“Saya minta keadilan, karena jelas-jelas anak saya ini korban. Karena dia tidak membuat dan tidak mengscan ijasah palsu itu. Kalau dipaksa mengaku apakah anak saya yang membuat ijasah, jelas dia tidak akan mengaku. Karena yang buat bukan dia tapi orang lain. Dan orang-orang ini yang selalu mengelak mengakuinya dalam persidangan,” sebutnya.

Terpisah, pengacara Abdul Kadir, Hosnan Taufik, menyatakan bakal memenuhi keinginan pihak keluarga kliennya. “Sesuai permintaan keluarga surat tersebut akan kami buatkan dan kirimkan kepada pihak-pihak yang disebut oleh pihak keluarga,” katanya.

Dia pun mengritisi lambannya penangana kasus pembuatan ijazah palsu oleh Polres Probolinggo. Menurutnya, jika mengacu pada fakta persidangan dan kesesuaian keterangan saksi dengan BAP, seharusnya polisi sudah dapat menentukan tersangka berikutnya.

“Saya heran, kenapa hanya klien saya saja polisi sangat cepat menjadikannya tersangka.  Bahkan kami mengajukan penangguhan penahanan, selalu tidak dikabulkan. Ini tidak adil,” kata Hosnan. (tm/iwy)


Bagikan Artikel