Hukum & Kriminal

Dua Mantan Kadispendik Bantah Teken Ijazah Palsu


KRAKSAAN – Pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo dihadirkan dalam lanjutan sidang kasus ijazah Paket C palsu dengan terdakwa Abdul Kadir, kemarin (19/12). Salah satunya adalah mantan Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Tutug Edi Utomo, yang saat ini menjabat kepala Bappeda.

Selain Tutug, jaksa juga menghadirkan Asyari, pensiunan PNS Pemkab Probolinggo yang juga pernah menjabat kepala Dinas Pendidikan. Dalam persidangan, saksi menepis adanya tanda tangan (TTD) yang tertera di ijazah Paket C milik terdakwa Abdul Kadir. Disinyalir, tanda tangan itu hanya mirip. Namun lekukan dan tarikan tanda tangan itu tidak persis dengan TTD milik mereka yang asli.

“Itu bukan tanda tangan saya. Hanya saja mirip. Tapi kalau dilihat dengan seksama, tarikan ijazah dan lekukan tanda tangan itu sangat berbeda. Tanda tangan saya memiliki sejumlah sudut lekukan wajib. Tapi disini tidak ada. Hanya mirip saja,” ungkap Asy’ari, di hadapan hakim.

Menurutna, dirinya dilantik sebagai kepala dinas pada 3 Agustus 2012. Sementara tanda tangan di ijazah itu tercatat 4 Agustus 2012. Menurutnya itu sangat tidak masuk akal. “Dilantik hari ini, besok sudah tanda tangan ijazah Paket C. Meskipun kemungkinan bisa terjadi, tapi potensinya sangat kecil,” jelasnya.

Yang perlu dijadikan tolok ukur, kata Asy’ari, adalah data base permohonan ijazah Paket C pada tahun 2012. Nama dan lembaga dalam ijazah terdakwa tidak tercantum dalam database permohonan ijazah Paket C itu. “Disini nama dan lembaganya tidak ada. Sudah saya cek,” ungkap Asyari yang mantan Kadispendik periode 2012-2013.

Sedangkan Tutug Edi Utomo juga menepis adanya tuduhan tanda tangan dirinya dalam legalisir ijazah terdakwa. Tandatangan yang ada di berkas fotokopi ijazah legalisir terdakwa hanya sekedar mirip. Lekuk dan tarikannya berbeda jauh dengan aslinya.  

Tutug membuktikannya dengan database pemohon legalisir pada tahun 2013. Dalam database itu tidak ada nama pemohon ijazah terdakwa. Dengan begitu, dirinya membuktikan bahwa memang tidak tanda tangan pada legalisir ijazah terdakwa.

“Itu hanya mirip. Saya tidak merasa tandatangan di legalisir ijazah itu,” ungkap Tutug yang mantan Kadispendik tahun 2013-2014. (yek/iwy)


Bagikan Artikel