Hukum & Kriminal

Tak Dapat Warisan, Anak Gugat Ibu ke Pengadilan


PROBOLINGGO – Kasus anak gugat ibu kandungnya,  Rabu (7/8) siang disidangkan perdana di Pengadilan Negeri (PN) Kota Probolinggo. Namun, sidang itu berlangsung singkat, karena kedua pihak bersepakat menjalani mediasi.

Sidang kasus itu dipimpin majelis hakim yang diketuai Eva Rina Sihombing, dengan hakim anggota Sylvia Yudhiastika dan Isnaini Imroatus. Majelis hakim menyarankan kedua pihak melakukan mediasi, dan bersedia. 

Selanjutnya, hakim Sylvia Yudhiastika menjadi mediator. Namun, belum diketahui hasil mediasi tersebut. Hingga Rabu sore, mediasi masih berlangsung. Hasil mediasi tersebut menjadi penentu kelanjutan sidangnya.

Dalam sidang kemarin pihak penggugat,  yaitu Annete Sugiharto (40) hadir dengan didampingi penasehat hukumnya, Muhammad Huna. Sedangkan dari pihak tergugat yang hadir hanya penasehat hukumnya, yakni Djando Gadhohoka. Pihak tergugat, yaitu Meliana Anggreini (68) warga Jl Gatot Subroto yang merupakan ibu kandung Annete Sugiharto, tidak hadir.

Selain ibunya, Annete  juga menggugat kakak kandungnya, Julius Sugiharto (42), dan adiknya, Trifena Sugiharto. Berikutnya, Notaris Dwiana Juliastuti dan Kepala Kantor Pertanahan Kota Probolinggo juga menjadi pihak turut tergugat.  

Melalui penasehat hukumnya, Annete Sugiharto mengatakan bahwa dirinya mengajukan gugatan ini setelah mengetahui lahan dan rumah keluarganya berganti atas nama ibunya. Padahal, lahan seluas 984 meter persegi tersebut Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) sebelumnya atas nama ayahnya, yaitu almarhum Eddy Lok.

Dan menurut Huna, nama kliennya tidak tercantum. Padahaal Annete anak sah pasangan suami istri Eddy Lok dengan Meliana Anggreini.  Peralihan nama SHGB itu berdasarkan akta nomor 34 yang dibuat notaris Dwiana Juliastuti. “Annete tidak dimasukkan sebagai ahli waris. Padahal, dia anaknya. Notaris hanya memasukkan 2 anak Meliani Anggreini,” beber Huna.

Huna menyangkal kliennya menolak diberi waris. Kliennya menolak kalau rumah dan pekaranganmya dijual. “Tidak benar. klien saya tidak pernah membuat surat keterangan penolakan pemberian ahli waris. Ia menolak kalau rumahnya dijual. Kalau ditempati ibu dan 2 saudara kandungnya, tidak masalah,” bebernya.

Kemarin Koran Pantura mendapat informasi bahwa mediasi belum membuahkan hasil. Sebab, para pihak tergugat tidak ada yang hadir. Mediasi akan ditunda sampai 13 Agustus. Untuk itu, para pihak diminta menyampaikan resume saat mediasi lagi.

Sedangkan penggugat menuntut 3 hal, yakni  meminta namanya dimasukkan sebagai ahli waris. Kedua, akta nomor34 yang dibuat para tergugat dicabut. Terakhir,  SHGB yang semula atas nama ayah Annete, yang telah berubah nama para tergugat, diperbaiki. “Nama klien saya harus dimasukkan sebagai sebagai ahli waris,” kata Huna.

Adapun dari pihak tergugat, Djando Gadhohoka menyatakan harapan agar mediasi menemui titik temu. Menurutnya, munculnya gugatan lantaran anak atau putri kedua kliennya tidak kebagian waris.

Kliennya tidak memasukkan Annete sebagai ahli waris, karena tahun 2004 pernah membuat surat pernyataan menolak waris. “Ada kok suratnya. Kalau memang disangkal, kami buktikan nanti di persidangan,” tandasnya.

Annete tidak diakui sebegai anak oleh ibunya, karena menikah dengan seseorang pria yang tidak disetujui ibunya. Bahkan hingga usia pernikahannya sekitar 14-15 tahun, yang bersangkutan bersama suaminya, tidak pernah menjenguk.

Annete pulang menemui ibunya setelah mendengar kalau lahan dan rumah orang tuanya mau dijual. “Ibunya sudah tidak mau. Karena sebelumnya penggugat menolak alias tidak akan meminta warisan. Jadi, penggugat sudah tidak dianggap anak, karena menentang ibunya,” kata Djando. (gus/iwy)


Bagikan Artikel