Hukum & Kriminal

Jual Tanah Negara, PNS Diciduk

PAJARAKAN –  As’ari Rankuti (43), warga Desa Gunggungan Lor Kecamatan Pakuniran Kabupaten Probolinggo diciduk polisi, Jumat (5/7) lalu. Pasalnya, PNS yang bertugas sebagai staf Kecamatan Kotaanyar itu disangka melakukan tindak pidana penipuan, dengan modus menjual tanah negara seluas 16 hektare.

Kasus itu kemarin dirilis Polres Probolinggo di hadapan awak media. As’ari ditunjukkan di hadapan wartawan dengan mengenakan pakaian oranye dan tangan diborgol.

Kapolres AKBP Eddwi Kurniyanto mengatakan, As’ari melakukan tindak pidana penipuan pada Syafi’i, warga Desa Kandangjati Kulon, Kraksaan, Februari 2018 lalu. Pelaku mengawali aksinya dengan modus menjual tanah seluas 16 hektare.

Tanah yang berada di Kecamatan Pakuniran itu ditawarkan pada korban Syafi’i dengan harga Rp 600 juta. Tanah yang luas dengan harga murah itu, membuat korban tergiur untuk membelinya. Hingga kemudian, korban diajak pelaku untuk melihat tanah tersebut.

As’ari Rankuti ditangkap anggota Polres Probolinggo karena disangka melakukan tindak pidana penipuan. (Abdul Jalil/Koran Pantura)

“Pelaku menunjukkan tanah yang dimaksud pada korban di Kecamatan Pakuniran. Tanah itu sebenarnya tak sampai 16 hektar, dan bukan milik pribadi, melainkan tanah milik negara, ” ungkap AKBP Eddwi yang asli Pandaan Kabupaten Pasuruan.

Usai melihat tanah, korban memutuskan untuk membelinya. Hingga kemudian, korban melakukan transaksi pembayaran pada pelaku. Pembayaran itu dilakukan secara berkala dengan transaksi tunai. Pelaku juga menyediakan kwitansi sebagai bukti transaksi, dan disimpan dalam sebuah buku besar.

“Korban bayarnya nyicil, dari awal sampai lunas Rp 600 juta. Bayarnya tunai, dari Rp 25 juta, kemudian Rp 40 juta, dan Rp 50 juta. Begitu terus sampai lunas,” jelas perwira dengan dua melati di pundaknya itu.

Setelah lunas pembayaran itu, katanya, korban kemudian mengecek surat-surat atas kepemilikan tanah itu. Ternyata, tanah tersebut merupakan tanah negara dengan luasan hanya 4,5 hektar. Merasa tertipu, korban lantas melaporkan itu pada pihak kepolisian.

“Dari laporan itu, pelaku segera kami amankan. Kami tidak mendapaktkan bukti berupa uang itu. Hanya buku besar yang isinya kwitansi. Uangnya sudah habis digunakan pelaku dan dibagikan ke temannya. Kami masih mendalami kasus itu. Kemungkinan ada pelaku lain yang terlibat di dalamnya,” ujarnya.

Sementara itu, As’ari mengaku uang yang didapatkan dari korban sudah habis dibagikan pada rekan-rekannya. Selain itu, ia juga menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan dirinya dan keluarganya. “Bukan tanah saya. Itu tanah orang. Saya ngaku itu tanah saya ke pembeli,” ujarnya pada media. (yek/iwy)


Bagikan Artikel

Tinggalkan Balasan