Hukum & Kriminal

Siap Bubar, Hasil Dialog Ponco Suro dan MUI


SUMBERASIH – Rahmat Hidayatullah alias Omat (50), pemilik akun facebook Ponco Suro yang memposting “Islam bukan ilmu, bukan agama”, akhirnya meminta maaf. Hal itu dilakukan setelah Omat bersama para pengikutnya bertemu dengan MUI Kabupaten Probolinggon dan Bakorpakem, Rabu (3/7) sekitra pukul 11.30 di kantor Desa Pohsangit Leres, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Pertemuan tersebut difasilitasi Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat) yang diketuai Kajari Kabupaten Probolinggo Nadda Lubis. Pertemuan tersebut juga dihadiri Ketua MUI KH Munir Kholili, Sekretaris MUI KH Syihabuddin dan sejumlah tokoh agama dari unsur NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, termasuk tokoh agama setempat KH Jamal.

Sedangkan Omat dengan kelompok yang menamakan diri Ponco Suro, hadir bersama sekitar dua puluh pengikutnya. Acara yang ditunggu-tunggu itupun dihadiri masyarakat setempat.

Meski pendopo desa dipenuhi warga, namun pertemuan berlangsung aman dan tertib hingga selesai. Riuh rendah tepuk tangan, tak memengaruhi emosi warga. TNI dan anggota Polresta Probolinggo turut mengamankan acara yang berlangsung siang hari tersebut.

Pertemuan berjalan alot, karena pihak Ponco Suro dan MUI saling berargumentasi mengeluarkan pendapatnya. Suasana tegang menjadi cair setelah di sesi kedua, Omat mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. “Jika kami dianggap salah, kami mohon maaf kepada para alim ulama, tokoh agama dan masyarakat serta para netizen,” tandasnya.

Dari kiri, Ketua Bakorpakem Nadda Lubis memfasilitasi pertemuan antara pemerintah dengan kelompok Ponco Suro. (Agus Purwoko/Koran Pantura)

Bahkan, Omat juga menyatakan akan membubarkan kelompoknya, jika Bakorpakem, dalam hal ini pemerintah memintanya. Pihaknya juga akan menghapus seluruh postingannya yang tidak dimengerti oleh masyarakat umum. “Sebagai warga negara yang baik, kami tunduk dan patuh kepada pemerintah. JIka pemerintah menghendaki kegiatan kami bubar, ya kami bubarkan,” tambahnya.

Sementara itu, usai pertemuan Kajari Nadda Lubis menegaskan akan memanggil Omat, jika perlu bersama beberapa pengikutnya ke kantor Kajari. Tujuannya untuk menandatangani pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan tidak memosting kalimat yang membingungkan dan meresahkan masyarakat. “Secara lisan sidah meminta maaf. Dan MUI telah memaafkan. Tapi kan perlu surat pernyataan. Ya, dimaafkanlah. Tuhan saja memaafkan,” tandas Nadda.

Kajari asli Medan Sumatera Utara ini mengatakan, postingan Omat sesat dan meresahkan masyarakat. Sedangkan soal kegiatan bersama pengikutnya, Kajari tidak tahu pasti.

Menurutnya, yang mengetahui hal tersebut masyarakat sekitar, wabil khusus MUI. Karenanya, ia menyerahkan sepenuhnya ke MUI. Namun, dari penjelasan Omat berikut beberapa pengikutnya dalam pertemuan itu, Nadda Lubis mengatakan, sama dengan Islam pada umumnya.

Yang jelas-jelas sesat, lanjut Nadda adalah postingan di medsos. Jika nantinya, kelompok yang dipimpin Omat melakukan hal yang sama, maka Kejari tidak segan-segan akan memproses secara hukum. Dan lagi, pihaknya tidak perlu mengadakan pertemuan serupa.

“Kan mereka sudah tanda tangan tidak akan berbuat lagi. Kalau diulangi, ya langsung kami amankan. Tidak perlu acara seperti ini,” tegas Nadda kepada sejumlah wartawan. (gus/iwy)


Bagikan Artikel